Standar Ganda dan Kegagalan Kepemimpinan Global
Perdana Menteri Spanyol baru-baru ini menyatakan bahwa satu pelanggaran hukum tidak dapat diperbaiki melalui pelanggaran hukum lainnya. Perang sering kali dimulai melalui serangkaian reaksi dan perlawanan kecil. Jika ketidakadilan dilakukan oleh satu pihak, pihak lain tidak boleh membalas kembali dengan bentuk ketidakadilan lainnya.
Saat ini, banyak negara kuat menempatkan diri mereka di atas hukum internasional, terutama didorong oleh kepentingan diri sendiri. Namun, tindakan yang melanggar hukum tersebut menyebar dan konsekuensinya menjadi tidak terkendali.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan, “Ketidakadilan seperti virus mematikan yang menyebar dengan cepat. Jika para kekuatan besar tersebut berasumsi bahwa tindakan mereka tidak akan pernah mengundang pertanggungjawaban dan bahwa mereka dapat mengabaikan hukum, moralitas, peradaban, dan kehidupan manusia tanpa konsekuensi, maka kekacauan dan ketidakstabilan global yang kita saksikan saat ini adalah hasil yang tak terhindarkan dari pemikiran tersebut.”
Ia juga menambahkan bahwa sudah menjadi tugas pemerintah adalah untuk meringankan penderitaan rakyatnya dan meningkatkan kualitas hidup mereka, bukan untuk membuat hidup semakin sulit.
Banyak politisi kontemporer yang telah gagal dan menggunakan perang sebagai cara untuk menyembunyikan kegagalan, sementara beberapa bahkan memperoleh keuntungan finansial dari konflik, menipu rakyat demi mengejar kepentingan ekonomi.
Triliunan dihabiskan untuk mendukung kehancuran lewat perang, bukan menginvestasikan sumber daya untuk rumah sakit dan kesejahteraan manusia.
Militerisme dan Krisis Lembaga Internasional
Hazrat Mirza Masroor Ahmad, menyampaikan bahwa seorang intelektual terkemuka Amerika menilai negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat, terlalu bergantung pada kekuatan militer. Menurutnya, diplomasi semakin ditinggalkan dan penggunaan kekuatan kerap dijadikan solusi utama dalam menyelesaikan konflik internasional.
Terkait situasi Iran, ia mengatakan ketegangan global masih berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Jika tidak segera dikendalikan, dunia berpotensi menghadapi krisis ekonomi besar dalam waktu dekat.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad juga menjelaskan bahwa Islam mengajarkan baik pihak yang tertindas maupun pihak yang menindas perlu dibantu. Pihak tertindas harus dibela melalui keadilan dan dukungan, sedangkan pihak penindas harus dicegah dari tindak kezaliman. Islam juga menekankan pentingnya pengendalian diri dan proporsionalitas serta melarang tindakan balas dendam maupun eskalasi konflik.
Ia kemudian mengutip pandangan seorang akademisi Amerika lainnya yang mengajak dunia belajar dari sejarah. Menurut akademisi tersebut, berbagai lembaga internasional dan sistem hukum global kini semakin kehilangan efektivitasnya.
Sebagaimana Liga Bangsa-Bangsa gagal menjalankan perannya pada era 1930-an, Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB juga dinilai semakin sulit menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Konsentrasi hak veto di tangan lima negara dianggap sebagai kelemahan mendasar dalam struktur organisasi tersebut. Jika diplomasi terus diabaikan, maka perang akan menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad juga menyinggung pernyataan Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, yang menyebut dunia saat ini semakin bergerak dengan logika bahwa pihak kuat menentukan segalanya, sementara pihak lemah harus menanggung akibatnya. Padahal, menggunakan tekanan dan kekuatan hanya akan memberikan keuntungan sementara, namun menimbulkan dampak jangka panjang yang merusak.
Eksploitasi, Kemunafikan, dan Penyalahgunaan Narasi Hak Asasi Manusia
Pemimpin Muslim Ahmadiyah menyoroti bahwa banyak negara maju mempertahankan dominasinya melalui ketidakadilan dan eksploitasi, sambil tetap diam terhadap berbagai penindasan yang dilakukan oleh sekutu mereka sendiri.
Ia menyatakan bahwa dalam sejumlah kasus, perang dibenarkan atas nama perlindungan hak-hak perempuan. Namun pada kenyataannya, perempuan dan anak-anak perempuan justru menjadi korban utama dalam konflik tersebut.
Seorang anggota parlemen Spanyol, pernah menyampaikan bahwa isu hak-hak perempuan sering kali dijadikan alat untuk mempertahankan dominasi geopolitik sekaligus membenarkan intervensi militer. Alasan serupa juga digunakan dalam konflik di Suriah, Irak, Lebanon, Afghanistan, dan Iran, meskipun masyarakat sipil harus menanggung dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Kesalahpahaman terhadap Islam
Pemimpin Muslim Ahmadiyah menyampaikan bahwa umat Islam mengakui adanya individu-individu yang melakukan kekerasan dan kekacauan atas nama Islam. Namun media seringkali memperbesar tindakan mereka sehingga melahirkan gambaran yang keliru tentang Islam itu sendiri.
Ia menegaskan bahwa sangat tidak tepat menyalahkan Islam, atau agama apa pun, atas tindakan individu yang justru bertentangan dengan ajaran agamanya.
Misi Jemaat Muslim Ahmadiyah
Menurut Pemimpin Muslim Ahmadiyah, menyebarkan perdamaian, harmoni, dan saling pengertian merupakan salah satu tujuan utama Jemaat Muslim Ahmadiyah. Karena itu, berbagai kegiatan seperti Simposium Perdamaian akan terus diselenggarakan meskipun pesannya hanya menjangkau sebagian kecil masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya secara pribadi telah menulis surat kepada banyak pemimpin dunia untuk mengajak mereka bekerja demi kemaslahatan umat manusia.
Dalam kesempatan itu, Hazrat Mirza Masroor Ahmad telah menulis kepada Perdana Menteri Israel, Presiden Iran, serta sejumlah pemimpin Muslim lainnya. Dalam surat-surat tersebut, ia menyerukan pentingnya menegakkan keadilan, kejujuran, dan saling pengertian berdasarkan ajaran Al-Qur’an.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad juga menyampaikan bahwa pesan serupa terus disampaikan kepada Presiden Amerika Serikat dan Presiden Tiongkok agar mereka merenungkan meningkatnya ketegangan global serta ancaman besar yang kini dihadapi umat manusia. Namun demikian, meningkatnya kekacauan dan ketidakstabilan dunia menunjukkan bahwa berbagai peringatan tersebut belum sepenuhnya mendapat perhatian serius.
Rasisme, Prasangka, dan Pentingnya Keadilan
Pemimpin Muslim Ahmadiyah mengatakan bahwa semakin banyak negara terjebak dalam konflik, sementara kelompok minoritas kerap menjadi sasaran diskriminasi di berbagai negara. Rasisme dan prasangka juga dinilai semakin meluas.
Menurutnya, masyarakat saat ini cenderung lebih fokus pada kelemahan dan permusuhan terhadap bangsa lain dibanding menghargai kelebihan dan kekuatan yang dimiliki pihak lain. Kesalahpahaman mengenai Islam juga terus disebarkan melalui sebagian media.
Padahal, ajaran Islam bersifat universal dan melampaui batas waktu maupun tempat. Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk menegakkan keadilan secara teguh, bahkan apabila hal tersebut merugikan keluarga, kerabat, maupun bangsa sendiri.
Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa kekayaan maupun kemiskinan tidak boleh mempengaruhi keadilan. Kepentingan pribadi tidak boleh menjauhkan seseorang dari sikap adil. Di hadapan Allah, status sosial tidak memiliki nilai; yang bernilai adalah kejujuran, ketulusan, dan keberanian dalam menyampaikan kebenaran.
Ia menambahkan bahwa Islam mengajarkan agar kebencian terhadap pihak lain tidak membuat seseorang meninggalkan keadilan, sebab keadilan merupakan jalan yang paling dekat kepada ketakwaan. Karena itu, Islam mewajibkan keadilan tidak hanya kepada sahabat dan sekutu, tetapi juga kepada lawan dan pihak yang bermusuhan.
Ajaran Islam tentang Penyelesaian Konflik
Terkait konflik antarnegara, Pemimpin Muslim Ahmadiyah menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan agar perselisihan terlebih dahulu diselesaikan melalui rekonsiliasi dan perdamaian.
Namun apabila salah satu pihak terus melakukan agresi, tindakan kolektif dapat dilakukan untuk menghentikan kezaliman tersebut. Meski demikian, ketika agresi telah berhenti, tidak boleh ada tindakan balas dendam ataupun penindasan lanjutan.
Menurutnya, prinsip tersebut bertujuan menciptakan perdamaian yang langgeng tanpa membedakan apakah pihak yang terlibat merupakan pihak kuat atau lemah, penindas ataupun tertindas. Pada dasarnya, Islam menegakkan prinsip keadilan dan keseimbangan.
Ia juga menegaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk menerima kebijaksanaan dari manapun asalnya. Jika sebuah pernyataan yang benar dan bijak datang dari seorang Kristen, Yahudi, bahkan ateis sekalipun, maka hal itu patut diterima.
Sikap terbuka seperti itu, lanjutnya, tidak hanya memperbaiki karakter individu, tetapi juga membantu menciptakan perdamaian dan harmoni dalam masyarakat.

Tidak ada Respon