Tilford, Warta Ahmadiyah – Pada 16 Mei 2026, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin Muslim Ahmadiyah, menghadiri National Peace Symposium 2026 atau Simposium Perdamaian Nasional 2026 yang diselenggarakan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah UK.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 135-136 beserta terjemahan dalam bahasa Inggrisnya. Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah UK, Rafiq Ahmad Hayat, kemudian menyampaikan sambutan pembuka sekaligus memperkenalkan mengenai simposium tersebut.
Tahun ini merupakan Simposium Perdamaian Nasional ke-19 yang diselenggarakan oleh Jemaat Ahmadiyah Muslim UK dengan mengusung tema “Absolute Global Justice – The Foundation for True Peace” atau “Keadilan Global yang Mutlak – Fondasi bagi Perdamaian Sejati.”
Dalam sambutannya, Rafiq Ahmad Hayat menyoroti berbagai upaya Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Pemimpin Muslim Ahmadiyah dalam mempromosikan perdamaian dunia dan membantu kemanusiaan di berbagai negara. Selama bertahun-tahun, Hazrat Mirza Masroor Ahmad diketahui aktif berdialog dengan para pemimpin agama dan kepala negara, serta menyampaikan pidato di berbagai forum internasional, termasuk Kongres Amerika Serikat, Parlemen Eropa, Parlemen Inggris, Parlemen Belanda, dan Konferensi Agama-Agama Dunia di London.
Sejumlah tokoh politik UK turut hadir dan menyampaikan pandangannya mengenai situasi global saat ini, diantaranya adalah Gregory James Stafford, Sir Edward Jonathan Davey dan Seema Malhotra, menyoroti konflik internasional yang terus berlangsung, serta tantangan dalam mewujudkan perdamaian dunia yang berkelanjutan, Mereka juga mengapresiasi kontribusi Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam mempromosikan perdamaian dan keadilan di berbagai belahan dunia.
Pada kesempatan tersebut, diumumkan pula penerima Ahmadiyya Muslim Prize for the Advancement of Peace tahun 2025, yakni Grégoire Ahongbonon. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad.
Pidato Utama Hazrat Mirza Masroor Ahmad
Dalam pidato utamanya, Pemimpin Muslim Ahmadiyah tersebut menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu dan peserta yang hadir dalam simposium tersebut.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan bahwa simposium perdamaian seperti ini telah diselenggarakan secara konsisten selama puluhan tahun. Namun, sebagian pihak mulai mempertanyakan sejauh mana manfaat nyata yang telah dihasilkan dari berbagai forum dan simposium perdamaian semacam tersebut.
Menurut Hazrat Mirza Masroor Ahmad, pertanyaan tersebut wajar muncul di tengah kondisi dunia yang dipenuhi ketidakadilan, konflik, dan ketidakstabilan. Meski demikian, Islam mengajarkan agar manusia tidak pernah berhenti berupaya menciptakan perubahan positif bagi dunia.
“Tidak ada usaha yang lebih mulia selain menjaga kelangsungan hidup dan masa depan umat manusia,” demikian pesan yang disampaikan oleh Pemimpin Muslim Ahmadiyah.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad memperingatkan bahwa apabila perang, kebencian, ketidakadilan, dan kekacauan terus dibiarkan, maka peradaban manusia akan mengalami kemunduran besar. Dampaknya tidak hanya dirasakan generasi saat ini, tetapi juga generasi-generasi mendatang.
Dampak Besar Peperangan
Dalam pidatonya, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyinggung besarnya korban Perang Dunia Kedua yang mencapai sekitar 70 juta jiwa, termasuk perempuan, anak-anak, dan warga sipil yang tidak bersalah.
Ia juga menyoroti dampak jangka panjang serangan nuklir di Jepang yang masih dirasakan hingga beberapa generasi setelah peristiwa tersebut terjadi.
Menurutnya, situasi dunia saat ini jauh lebih mengkhawatirkan karena kepemilikan senjata nuklir tidak lagi terbatas pada satu negara, seperti di tahun 1945 dimana kepemilikan terbesar nuklir dimiliki oleh Amerika Serikat. Jika senjata nuklir kembali digunakan dalam konflik modern, kehancuran yang ditimbulkan akan melampaui bayangan manusia.
Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyatakan bahwa semakin banyak tokoh dunia kini mulai menyadari bahaya besar yang mengancam umat manusia. Berbagai pihak menyerukan pentingnya pengendalian diri, kesabaran, dan penyelesaian konflik melalui dialog.
“Kita bekerja keras sepanjang hidup demi kesejahteraan keluarga dan anak-anak, lalu mengapa nyawa orang tak bersalah harus dikorbankan dalam upaya peperangan? Mereka yang mendorong peperangan sesungguhnya sedang menyiapkan kehancuran bagi generasi mereka sendiri,” tegas Pemimpin Muslim Ahmadiyah tersebut.
Peringatan terhadap Eskalasi Global
Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengutip berbagai pernyataan tokoh dunia yang mengungkapkan kekhawatiran terhadap meningkatnya ancaman perang global.
Mantan Presiden Irlandia, Michael D Higgins, misalnya, pernah menyatakan bahwa dunia kini memasuki masa ketika ancaman perang meningkat secara cepat, sementara diplomasi justru semakin diabaikan.
Demikian pula, Perdana Menteri Slovakia yang secara terbuka menyatakan bahwa diskusi seputar perang dan kesiapan militer telah menjadi hal yang dinormalisasi secara mengkhawatirkan. Hazrat Mirza Masroor Ahmad juga menyinggung pernyataan sejumlah pemimpin dunia terkait konflik di Ukraina, Gaza, dan Iran, yang menunjukkan adanya standar ganda dalam penerapan keadilan internasional.
Menurut Hazrat Mirza Masroor Ahmad, banyak negara kuat menempatkan kepentingannya di atas hukum internasional. Akibatnya, ketidakadilan terus meluas dan menciptakan ketidakstabilan global.
Keadilan sebagai Prinsip Dasar Islam
Hazrat Mirza Masroor Ahmad menegaskan bahwa Islam mengajarkan prinsip universal: seseorang harus menginginkan kebaikan bagi orang lain sebagaimana ia menginginkannya bagi dirinya sendiri. Apabila prinsip tersebut benar-benar diterapkan, dunia akan menjadi tempat yang damai, penuh toleransi, dan saling menghormati.
Mengenai konflik yang melibatkan Iran, bahkan Wakil Kanselir Jerman pun secara terbuka menentang perang. Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyatakan bahwa meskipun ia menghargai semua orang yang menentang peperangan, tindakan praktis yang dilakukan untuk menghentikannya hampir tidak ada. Retorika belaka, betapapun menariknya kedengarannya, tidak dapat mewujudkan perdamaian dan keamanan. Ia juga menekankan bahwa perdamaian tidak dapat diwujudkan hanya melalui pidato dan slogan. Perdamaian membutuhkan langkah nyata, kejujuran, dan keadilan.
Selama kunjungannya ke Turki, Paus Leo juga memperingatkan bahwa “Perang Dunia Ketiga” secara bertahap sedang terjadi, yang mempertaruhkan masa depan umat manusia. Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengamati bahwa banyak orang sekarang mengakui peringatan yang telah ia sampaikan selama bertahun-tahun, yaitu, bahwa umat manusia sedang berjalan dalam tidur menuju kegelapan dan kehancuran.

Tidak ada Respon