Tasikmalaya, Warta Ahmadiyah – Jemaat Muslim Ahmadiyah Wanasigra menggelar peringatan Hari Muslih Mau’ud dengan khidmat di Masjid Al Fadhal pada Sabtu 21 Februari 2026.
Kegiatan yang dimulai pukul 16.30 WIB hingga menjelang waktu Maghrib tersebut dihadiri sekitar 300 peserta yang memenuhi ruang masjid dengan suasana tertib dan penuh kekhusyukan.
Peringatan Hari Muslih Mau’ud merupakan momentum bersejarah bagi Jemaat Ahmadiyah untuk mengenang nubuwatan tentang kelahiran seorang Putra yang Dijanjikan yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad. Nubuwatan tersebut diyakini merujuk pada sosok Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, Khalifah II Jemaat Ahmadiyah yang dikenal dengan gelar Muslih Mau’ud.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Gondrong Gelar Bakti Sosial untuk Warga
Acara diawali dengan sambutan Ketua Jemaat Muslim Ahmadiyah Wanasigra, Dodi Kurniawan.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peringatan Hari Muslih Mau’ud bukanlah perayaan hari kelahiran, melainkan peringatan atas nubuwatan mengenai Putra yang Dijanjikan sebagaimana diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah.
Ia juga mengajak seluruh anggota jemaat untuk meneladani nilai-nilai pengabdian dan keteladanan yang ditunjukkan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud ra dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Baca juga: Sinergi Generasi dalam Malam Anshar dan Khuddam Connect Jemaat Ahmadiyah Wanasigra
Materi utama kemudian disampaikan oleh Mubaligh Jemaat, Mln. Mawahibur Rahman.
Dalam ceramahnya, ia menyampaikan empat pelajaran penting dari kehidupan Hadhrat Muslih Mau’ud ra yang relevan untuk memperkuat keimanan dan pengabdian anggota jemaat, khususnya di bulan suci Ramadhan.
Pelajaran pertama menekankan pentingnya doa dalam mempersiapkan generasi unggul. Ia mencontohkan bagaimana Mirza Ghulam Ahmad melakukan khalwat selama 40 hari di Hoshiarpur hingga menerima kabar tentang kelahiran Putra yang Dijanjikan.
Baca juga: Program Masak dan Berbagi di Masjid Mahmudah Jemaat Ahmadiyah Gondrong Kenanga
Menurutnya, generasi yang kuat tidak lahir secara kebetulan, tetapi melalui doa yang sungguh-sungguh dan ketaatan kepada nilai-nilai keimanan.
Pelajaran kedua adalah bahwa keimanan bukan sekadar warisan turun-temurun. Hadhrat Muslih Mau’ud ra sejak usia muda mempelajari dan mengkaji kebenaran ajaran yang disampaikan ayahandanya sebelum menyatakan keyakinan secara sadar.
Hal ini menjadi teladan bahwa iman perlu dibangun di atas dasar ilmu dan pencarian yang jujur.