Pelajaran ketiga menekankan bahwa kemuliaan dalam Jemaat ditentukan oleh ketakwaan, bukan oleh senioritas atau kedudukan duniawi.
Terpilihnya Hadhrat Muslih Mau’ud ra sebagai Khalifah II pada usia 25 tahun menjadi bukti bahwa kepemimpinan dalam Jemaat didasarkan pada kualitas ruhani dan pengabdian.
Sementara itu, pelajaran keempat menyoroti pentingnya respon spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan. Ia mencontohkan gerakan Tahrik Jadid sebagai bentuk pengorbanan kolektif untuk memperkuat tabligh dan pengabdian jemaat, yang dilandasi oleh semangat ketaatan dan loyalitas kepada Khilafat.
“Empat pilar ini—doa, ilmu, ketakwaan, dan loyalitas—menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlangsungan dan kemajuan Jemaat,” ujarnya di hadapan para peserta.
Menjelang waktu Maghrib, kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Mubaligh setempat, Mln. Teguh Nasir Ahmad. Karena kegiatan berlangsung di bulan Ramadhan dan berakhir bertepatan dengan adzan Maghrib, acara dilanjutkan dengan buka puasa bersama.
Para jamaah tampak menikmati hidangan berbuka dalam suasana kebersamaan yang hangat, menutup rangkaian peringatan dengan semangat persaudaraan dan peningkatan spiritual. *
Kontributor: Rosmana
Editor: Talhah Lukman A