Jakarta, Warta Ahmadiyah- Program Rumah Belajar Satutiba yang diinisiasi Humanity First Indonesia resmi mengakhiri kegiatan pendampingan pendidikan di Desa Lusi Peri, Fakfak, Papua Barat.
Penutupan program diumumkan pada Rabu, 1 Juli 2026, setelah selama beberapa bulan memberikan layanan belajar bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Selama pelaksanaan program, Mln. Hafiz Bahansubu bersama sang istri, Mutia Siddiqa bertugas sebagai pengajar sekaligus pendamping.
Baca juga: Direktur SETARA Institute: Jalsah Salanah Ahmadiyah Perkuat Kepercayaan Publik dan Kebebasan Beragama
Keduanya menghadirkan ruang belajar sederhana yang menjadi tempat anak-anak memperoleh pengetahuan hingga mengembangkan kemampuan dasar.
Mln. Hafiz Bahansubu mengatakan program tersebut lahir dari kepedulian terhadap masih terbatasnya akses pendidikan di daerah tersebut.
Menurutnya, setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar yang sama.
“Kami melihat bahwa anak-anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan akses belajar yang baik,’ ujar Mln. Hafiz.
Baca juga: Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Wujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin Lewat Persaudaraan
“Dari situlah kami memulai Rumah Belajar Satutiba dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi mereka,” tambahnya.
Selama kegiatan berlangsung, hubungan antara pengajar dan peserta didik semakin erat.
Kedekatan itu terlihat hingga hari terakhir program, ketika anak-anak masih rutin mendatangi kediaman Mln. Hafiz Bahansubu dan Mutia Siddiqa untuk belajar sekaligus menghabiskan waktu bersama.
Baca juga: Jalsah Salanah USA 2026, Dua Lajnah Imaillah Asal Indonesia Ikut Berkontribusi
Suasana haru terjadi saat sejumlah anak datang ke bandara untuk mengantar keberangkatan kedua pengajar.

Tidak ada Respon