JAKARTA, Warta Ahmadiyah-Mini Workshop Mahasiswa bertajuk “Dialog Antaragama sebagai Strategi Pendidikan Perdamaian di Perguruan Tinggi” sukses digelar di Universitas Paramadina Jakarta pada Senin, 25 Mei 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP) bersama Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen dialog lintas iman di tengah meningkatnya polarisasi sosial dan keagamaan.
Forum tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan mahasiswa lintas kampus sebelumnya di Kampus Mubarak. Sejumlah akademisi, mahasiswa, dan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia hadir secara langsung untuk membahas pentingnya pendidikan perdamaian berbasis dialog dan penghormatan terhadap keberagaman.
Kegiatan ini menghadirkan Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini, Ph.D., Sekjen PCRP Swary Utami Dewi, M.A., Dr. Budhy Munawar Rachman, serta Mln. Harpan Ahmad, M.Bsy. Diskusi secara intensif berfokus pada tantangan keberagaman di ruang publik dan pentingnya membangun budaya dialog di kalangan generasi muda.
Baca juga: Pendidikan dan Karir Masa Depan Jadi Fokus AMSEC 2026 bagi Pelajar Ahmadiyah
Dalam sambutannya, Prof. Didik menegaskan bahwa keberagaman suku, budaya, dan agama harus ditempatkan sebagai bagian dari visi besar masa depan Indonesia. Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang manusia yang diciptakan untuk saling mengenal dan membangun hubungan yang baik antarsesama.
“Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling memusuhi. Yang dibutuhkan adalah hati yang lapang, sikap terbuka, dan penghormatan terhadap sesama,” ujarnya.
Sekjen PCRP Swary Utami Dewi mengatakan konflik sosial sering lahir dari cara pandang yang keliru terhadap perbedaan. Menurutnya, masyarakat majemuk membutuhkan ruang dialog agar keberagaman tidak berubah menjadi sumber ketegangan sosial maupun politik.
“Tidak akan ada perdamaian tanpa dialog dan pergerakan bersama,” katanya.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Purwokerto Sambut Hangat Kunjungan Mahasiswa UIN Saizu di Peace Center
Sementara itu, Dr. Budhy Munawar Rachman menilai ketakutan terhadap dialog menunjukkan cara beragama yang masih eksklusif dan sulit menerima keberadaan pihak lain. Ia menegaskan bahwa keyakinan yang matang justru akan terbuka terhadap percakapan lintas pandangan.
“Iman yang matang tidak akan takut untuk berdialog,” ujarnya.

Tidak ada Respon