Tangerang Selatan, Warta Ahmadiyah — Ketua Nasional Perempuan Ahmadiyah Indonesia, Prof. Dr. Siti Aisyah Bakrie, M.Pd., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Terbuka dalam bidang kepakaran Model Pendidikan Anak Usia Dini pada acara Pengukuhan Guru Besar Universitas Terbuka 2026 yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Banten, Rabu (5/8/2026).
Pengukuhan tersebut menandai pencapaian akademik yang diraih melalui proses panjang penelitian, publikasi ilmiah, serta pengembangan inovasi pendidikan yang berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran anak usia dini di Indonesia.
Sadr Lajnah Imaillah Indonesia, Prof. Dr. Siti Aisyah Bakrie menjelaskan bahwa perjalanan menuju jabatan guru besar tidak ditempuh dalam waktu singkat. Sejak awal bergabung di Universitas Terbuka, ia mendapat amanah untuk membangun sekolah unggulan yang mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Baca juga: Menjadi ‘Ismail’ Masa Kini, Generasi Waqf-e-Nau Diajak Hidup untuk Pengabdian
“Pengukuhan ini saya lalui melalui perjalanan yang sangat panjang. Seorang profesor harus menghasilkan karya-karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal bereputasi internasional. Bagi saya, pengukuhan ini menjadi peneguhan komitmen terhadap keilmuan yang terus saya tekuni,” ujarnya.
Selama proses tersebut, ia menghasilkan berbagai publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi serta memperoleh hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM berupa panduan literasi anak melalui metode bercerita yang saat ini tengah memasuki tahap hilirisasi agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas.
Seluruh pengalaman penelitian tersebut kemudian dirangkum dalam model pembelajaran BERLIAN, sebuah pendekatan pendidikan anak usia dini yang menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran dengan menggabungkan kearifan lokal dan pendekatan kontekstual.
Baca juga: Generasi Waqf-e-Nau Diajak Mengenal Diri Sebelum Mengubah Dunia
Menurutnya, pendidikan anak perlu mampu menjawab tantangan perkembangan zaman, termasuk pesatnya digitalisasi, tanpa melepaskan anak dari lingkungan budaya tempat mereka tumbuh.
“Cara paling efektif menghadapi dampak digitalisasi adalah menghidupkan kembali kearifan lokal. Anak-anak dapat belajar melalui cerita rakyat, permainan tradisional, dan pengalaman langsung yang dekat dengan kehidupan mereka.”
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Siti Aisyah juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun generasi masa depan. Ia menilai kualitas anak sangat dipengaruhi oleh kualitas ibu sebagai pendidik pertama di lingkungan keluarga.

Tidak ada Respon