Anak Bukan Orang Dewasa Versi Kecil, Guru Besar UT Kenalkan Model Pendidikan BERLIAN

Munadi AhmadNasional3 min
Prof. Siti Aisyah: Anak Bukan Orang Dewasa dalam Tubuh Kecil, Cara Belajar dan Tumbuhnya Perlu Dipahami.
A-AA+A++

Tangerang Selatan, Warta Ahmadiyah — Anak bukanlah orang dewasa dalam tubuh yang lebih kecil. Cara mereka belajar, berpikir, dan bertumbuh memiliki keunikan yang perlu dihargai. Gagasan tersebut disampaikan Prof. Dr. Siti Aisyah Bakrie, M.Pd. dalam orasi ilmiahnya saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Terbuka di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan, Rabu (5/8/2026).

Dalam pidato ilmiahnya, Sadr Lajnah Imaillah Indonesia itu memperkenalkan BERLIAN, sebuah model pendidikan anak usia dini yang menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran, sekaligus memadukan kearifan lokal dengan pendekatan yang sesuai perkembangan anak.

Menurutnya, pendidikan bukan sekadar mempersiapkan anak masuk sekolah, tetapi membangun manusia yang utuh sejak tahun-tahun pertama kehidupannya.

Baca juga: Ketua Nasional Perempuan Ahmadiyah Indonesia Raih Gelar Guru Besar Universitas Terbuka

“Pendidikan adalah merawat kemanusiaan, memberi akar agar anak tak tercerabut, memberi sayap agar anak tak terkurung, dan memberi cahaya agar setiap berlian berkilau dalam terangnya sendiri.”

Prof. Siti Aisyah menjelaskan bahwa dunia pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar. Digitalisasi berkembang sangat cepat, sementara banyak proses belajar masih berpusat pada hafalan, keseragaman, dan ukuran akademik semata.

Padahal, menurutnya, kesiapan belajar anak tidak hanya diukur dari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Anak juga perlu dibangun rasa ingin tahunya, kemampuan mengelola emosi, empati, keberanian bertanya, serta kebiasaan memecahkan masalah.

Baca juga: Menjadi ‘Ismail’ Masa Kini, Generasi Waqf-e-Nau Diajak Hidup untuk Pengabdian

Melalui model BERLIAN, ia menawarkan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak, mengutamakan hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik, memanfaatkan budaya lokal sebagai sumber belajar, menghargai keberagaman, serta menolak segala bentuk kekerasan dalam proses pendidikan.

Ia mencontohkan bahwa lingkungan sekitar sesungguhnya merupakan ruang belajar yang kaya. Permainan congklak dapat menjadi media belajar matematika, cerita rakyat menumbuhkan kemampuan literasi, sementara alam di sekitar anak menjadi laboratorium pertama untuk mengenal sains.

Menurutnya, pendidikan yang baik tidak memisahkan anak dari akar budayanya.

“Anak mungkin mengenal hewan dari benua lain, tetapi jangan sampai asing terhadap sawah, sungai, permainan, dan budaya di lingkungan tempat ia tumbuh.”