Dari Baitul Afiyat hingga Kunjungan Khalifah, Jejak Pengkhidmatan Chadidjah Siddiqah

Munadi AhmadNasional3 min
A-AA+A++

Bogor, Warta Ahmadiyah — Almh. Chadidjah Siddiqah Haris Setiarso meninggalkan sejumlah jejak pengkhidmatan selama menjalankan amanah di Jemaat. Siti Aisyah Bakrie, Sadr Lajnah Imaillah Indonesia, menyebut pembangunan Baitul Afiyat menjadi salah satu karya yang akan dikenang. Bogor, (06/09/2026).

“Salah satu karya beliau yang akan dikenang sepanjang masa adalah beliau adalah ketua pembangunan Baitul Afiyat yang pertama. Dulu masih namanya adalah Gedung Lajnah. Beliau adalah ketua pembangunan yang pertama,” ujarnya.

Menurutnya, pembangunan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan fisik Lajnah Imaillah. Ibu Chadidjah juga memikirkan tersedianya tempat yang dapat digunakan anggota Lajnah dari berbagai daerah untuk melaksanakan kegiatan.

Baca juga: Chadidjah Siddiqah, Sosok yang Teguh Memegang Nizam Jemaat

“Beliau bukan hanya ingin Lajnah ini maju secara rohani, tapi beliau juga memikirkan bagaimana Lajnah memiliki sebuah gedung, tempat aktivitas Lajnah Imaillah dari seluruh penjuru tanah air untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan,” ungkapnya.

Selain pengkhidmatan dalam pembangunan, Sadr LI Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia mengenang kemampuan komunikasi Beliau yang kerap membantu dalam berbagai pertemuan. Kemampuan tersebut juga digunakan ketika berinteraksi dengan tamu-tamu yang datang ke Indonesia.

“Beliau memiliki kemampuan berkomunikasi yang sangat baik. Jadi kalau kami berkunjung ke suatu tempat, dalam suatu pembicaraan kadang kala kita suka kehabisan kata-kata. Di situlah Ibu Khadijah sebagai pahlawan di dalam keheningan kami menyusun suatu kata-kata,” tuturnya.

Baca juga: Siratun Nabi di Bendungan Ajak Muslim Ahmadi Menjadikan Akhlak Rasulullah sebagai Cermin Diri

Kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki Mendiang Ibu Chadidjah juga mendukung pengkhidmatannya. Ia beberapa kali membantu menerjemahkan serta menyampaikan hal-hal yang tidak dapat disampaikan oleh pengurus kepada para tamu.

“Beliau memiliki kemampuan fluent sangat baik di dalam bercakap bahasa Inggris. Beliau seringkali menjadi penerjemah, seringkali beliau yang menyampaikan apa yang tidak bisa kami sampaikan kepada tamu-tamu terhormat yang datang ke Indonesia,” katanya.

Guru Besar Universitas Terbuka itu juga menyebut kemampuan Ibu Chadidjah dalam mengatasi persoalan dan mendorong orang lain untuk menjalankan tugas sebagai bagian dari pengkhidmatannya. Ia sendiri pernah mendapat amanah untuk membantu menangani sejumlah acara bersama Almarhumah.