IAKN Manado: Keberagaman Kekuatan Bangsa, Ahmadiyah Perluas Dialog Akademik

Munadi AhmadNasional3 min
Rangkaian kegiatan Bedah Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan di IAKN Manado, Sulawesi Utara
A-AA+A++

Manado, Warta Ahmadiyah — Komitmen Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia dalam merawat keberagaman dan memperkuat dialog lintas iman kembali mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Hal itu mengemuka dalam kegiatan bedah buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan di Taman Eben Haezer Tateli, Minahasa, Sulawesi Utara, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan bertema “Torang Samua Basudara: Merajut Kebersamaan dan Menjaga Damai Lewat Aksi Kemanusiaan Lintas Iman” tersebut mempertemukan tokoh agama, akademisi, mahasiswa, serta pegiat kerukunan dari berbagai latar belakang. Forum ini menjadi ruang diskusi terbuka yang membahas kontribusi keberagaman dalam memperkuat kehidupan kebangsaan.

Wakil Dekan Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan IAKN Manado, Agus Marulitua Marpaung, menegaskan bahwa keberagaman merupakan modal sosial penting bagi Indonesia. Ia menilai persatuan bangsa lahir dari kesadaran kolektif untuk merawat perbedaan.

Baca juga: Amir Nasional JAI Temui Wakil Gubernur Sulut, Toleransi dan Kolaborasi Jadi Fokus Utama

“Keberagaman bukanlah kutukan, melainkan kekayaan yang luar biasa. Kita boleh berbeda, tetapi kita dipersatukan sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya ruang dialog lintas iman sebagai bagian dari penguatan moderasi beragama.

“Kita boleh beragam, tetapi kita satu dalam kemanusiaan. Dengan saling mengenal, kita dapat memahami bahwa kita memiliki tujuan yang sama, yakni memajukan bangsa Indonesia,” katanya.

Baca juga: Amir Nasional JAI Temui Ketua DPRD Sulawesi Utara, Bahas Kolaborasi dan Penguatan Toleransi

Sementara itu, Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, menyambut positif antusiasme peserta yang mengikuti diskusi sejak pagi hingga siang hari. Menurutnya, tingginya partisipasi menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap ruang dialog yang terbuka dan objektif.

“Diskusi-diskusi dan ruang-ruang perjumpaan semacam ini tentu harus kita pelihara dan tumbuhkembangkan ke depan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa buku yang dibedah memuat refleksi dan testimoni 100 tokoh dari berbagai latar belakang yang memberikan pandangan objektif mengenai Ahmadiyah dan pengalaman kebersamaan dengan anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia.