Jakarta, Warta Ahmadiyah — Ruang pendidikan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam mempertemukan berbagai latar belakang dan gagasan. Semangat tersebut terlihat dalam kehadiran Sadr Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia, Muhammad Anahdi Sholihin, pada pengukuhan Dr. Fariz Alnizar, M.Hum. sebagai Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) periode 2026–2030 di Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Almahdi menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar kepemimpinan Fariz dapat membawa kemajuan bagi dunia pendidikan Indonesia. Menurutnya, Fariz memiliki perhatian kuat terhadap hubungan antara keilmuan Islam, kehidupan kebangsaan, dan isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
“Saya mengucapkan mubarak kepada Dr. Fariz Alnizar atas amanah sebagai Rektor UNUSIA. Semoga kepemimpinan beliau membawa keberkahan dan kemajuan untuk pendidikan Indonesia,” ujarnya.
Fariz Alnizar sendiri menilai perguruan tinggi perlu menjadi ruang terbuka bagi berkembangnya pemikiran yang merdeka. Menurutnya, UNUSIA berupaya menjadi lingkungan akademik yang kosmopolitan dan terbuka terhadap berbagai kelompok, termasuk komunitas minoritas dan kelompok di luar arus utama.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Sadasari Hadiri Kemping Pemuda Lintas Agama di Majalengka
“UNUSIA adalah rumah untuk bertumbuhnya pikiran-pikiran yang merdeka. Jadi kita terbuka dengan siapa pun, kosmopolitan, bahkan dengan kelompok-kelompok minoritas dan kelompok-kelompok di luar mainstream,” kata Fariz.
Ia juga menekankan pentingnya perhatian yang lebih serius terhadap kelompok minoritas dalam pendidikan tinggi Indonesia. Menurutnya, setiap kelompok merupakan bagian dari warga negara yang memiliki kedudukan dan hak yang sama di hadapan hukum dan negara.
Pandangan tersebut mendapat perhatian dari Almahdi. Ia menilai gagasan Fariz mengenai penghormatan terhadap kelompok minoritas memiliki relevansi dengan karya akademiknya, termasuk kajian mengenai kekerasan linguistik dan bagaimana bahasa dapat digunakan untuk mengeliminasi kelompok tertentu dalam kehidupan sosial.
Baca juga: Puluhan Tahun Berbagi, Jemaat Ahmadiyah Lolak Kembali Salurkan Sembako kepada Warga
“Mas Fariz sangat kuat memadukan keilmuan keislaman dan nilai-nilai kebangsaan. Salah satu karyanya mengenai kekerasan linguistik menunjukkan perhatian terhadap bagaimana bahasa dapat mengeliminasi kelompok minoritas dan menjadi rujukan penting dalam melihat persoalan tersebut,” ujarnya.
Selain isu keberagaman, Fariz menjelaskan bahwa UNUSIA juga berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan inovasi. Kajian manuskrip, kebudayaan, serta berbagai warisan keilmuan tetap dipertahankan, sementara pengembangan riset di bidang sains dan teknologi terus didorong untuk menjawab tantangan zaman, termasuk pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) dalam pendidikan.
Menurutnya, perguruan tinggi juga memiliki tanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia yang mampu membawa transformasi bagi masyarakat. Karena itu, pengembangan keilmuan perlu berjalan beriringan dengan kemampuan merespons perubahan teknologi dan kebutuhan sosial.

Tidak ada Respon