Guildford, Warta Ahmadiyah – Di tengah suasana Majlis Ansarullah UK National Ijtema 2026 yang berlangsung pada 18–20 September 2026 di Hook Lane, Puttenham, Guildford, Inggris, muncul satu pertanyaan yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga: bagaimana manusia dapat tetap merasa aman ketika dunia di sekitarnya terus berubah?
Perang, kekerasan, bencana, hingga berbagai konflik yang terjadi di berbagai belahan dunia membuat persoalan keselamatan tidak lagi hanya menjadi pembicaraan tentang negara atau pemerintahan. Bagi keluarga, pertanyaan itu juga menyentuh kehidupan sehari-hari dan masa depan anak-anak mereka.
Persoalan tersebut menjadi salah satu latar pesan Hazrat Mirza Masroor Ahmad Aba, Khalifah Islam Ahmadiyah V dalam pidato penutup Ijtema Nasional Majlis Ansarullah UK 2026. Ia mengingatkan pentingnya memperbaiki diri dan membangun hubungan dengan Allah Taala sebagai bagian dari upaya menghadapi kondisi dunia.
Baca juga: Memaafkan dan Menutupi Kesalahan, Jalan Menjaga Keharmonisan
“Kondisi dunia saat ini sedemikian rupa sehingga ketika kita menyucikan hati dan bersujud di hadapan Allah Taala, barulah Allah Taala akan menyelamatkan kita,” demikian pesan yang disampaikannya dalam pidato tersebut.
Pesan itu kemudian tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan. Beliau juga menghubungkannya dengan hubungan antarmanusia. Manusia perlu memenuhi hak-hak sesama, melangkah menuju kebajikan, dan membangun masyarakat yang damai.
Pandangan tersebut menarik jika ditempatkan dalam kehidupan keluarga. Sebab, rasa aman tidak hanya berarti terbebas dari perang atau bencana. Bagi orang tua, rasa aman juga berarti melihat anak tumbuh tanpa terbiasa dengan kebencian, kekerasan, atau sikap saling merendahkan.
Baca juga: Perbaiki Diri untuk Mewujudkan Perubahan di Dunia
Di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, keluarga memiliki ruang yang paling dekat untuk membentuk cara seseorang memperlakukan orang lain. Nilai tentang menghormati sesama, menahan diri dari kebencian, membantu orang lain, dan memilih jalan damai dapat dimulai dari lingkungan paling sederhana.
“Baik kehancuran yang terjadi akibat kesalahan manusia, kehancuran yang timbul karena peperangan antarmanusia, maupun kehancuran yang datang sebagai hukuman dari Allah Taala, satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri darinya adalah dengan bersujud kepada Allah Taala dan memenuhi hak-hak ibadah kepada-Nya,” tambahnya.
Pada akhirnya, pesan tersebut membawa persoalan besar dunia kembali kepada sesuatu yang dekat dengan setiap manusia: bagaimana seseorang menjalani kehidupan, memperlakukan sesama, dan membangun lingkungan yang damai mulai dari tempatnya sendiri.

Tidak ada Respon