Ketua Komnas Perempuan RI temukan optimisme Pemberdayaan Perempuan dari Sebuah Pertemuan Umat Islam di Inggris

Munadi AhmadMancanegara2 min
Maria Ulfah Anshor membawa pulang pelajaran tentang pemberdayaan perempuan dari Jalsah Salanah UK 2026, bukan sekadar dari ruang advokasi.
A-AA+A++

Hampshire, Warta Ahmadiyah — Selama bertahun-tahun, Maria Ulfah Anshor memperjuangkan hak-hak perempuan, perlindungan anak, dan kelompok minoritas di Indonesia. Namun pengalaman yang ia bawa pulang dari Jalsah Salanah Internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah UK 2026 bukan berasal dari ruang sidang atau forum advokasi, melainkan dari cara sebuah komunitas memberi ruang bagi perempuan untuk bertumbuh, Sabtu (25/7/2026).

Di tengah lebih dari 51 ribu peserta dari 117 negara, perhatian Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan itu justru tertuju pada bagaimana perempuan dilibatkan dalam kehidupan bermasyarakat melalui pendidikan, pelayanan, dan kepemimpinan.

“Saya menyaksikan secara langsung betapa besarnya perhatian Jemaat Muslim Ahmadiyah terhadap pendidikan, pemberdayaan, dan partisipasi aktif perempuan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya saat menyampaikan sambutan di podium Jalsah Salanah UK 2026.

Baca juga: Tokoh Indonesia Terima Pesan Perdamaian dari Khalifah Muslim Ahmadiyah

Menurutnya, pemberdayaan yang sesungguhnya tidak berhenti pada wacana kesetaraan. Ia dimulai ketika perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, memimpin, dan membina generasi masa depan tanpa dibayangi rasa takut maupun diskriminasi.

“Pemberdayaan yang sejati dimulai ketika perempuan diberi kesempatan yang setara untuk belajar, memimpin, dan membina generasi masa depan,” katanya.

Pengalaman tersebut memiliki arti khusus bagi Maria. Selama lebih dari dua dekade, ia terlibat dalam pendampingan korban kekerasan dan advokasi hak-hak kelompok rentan. Karena itu, ia melihat kualitas sebuah masyarakat selalu tercermin dari cara masyarakat memperlakukan perempuan, anak-anak, dan mereka yang berada dalam posisi paling lemah.

Baca juga: Khalifah Muslim Ahmadiyah Terima Tokoh Indonesia dalam Audiensi Khusus di Islamabad

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Maria menilai komitmen Jemaat Muslim Ahmadiyah terhadap perdamaian, pelayanan sosial, dan perjuangan tanpa kekerasan menjadi pengalaman yang layak dipelajari.

Baginya, pesan “Love for All, Hatred for None” tidak berhenti sebagai slogan. Ia melihat bagaimana nilai tersebut diterjemahkan melalui penghormatan terhadap martabat manusia, ruang belajar bagi perempuan, dan semangat melayani sesama.

Maria pun pulang dari Inggris dengan keyakinan yang semakin kuat: masyarakat yang damai dibangun ketika setiap orang, terutama perempuan dan kelompok rentan, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang, memimpin, dan memberi manfaat bagi orang lain.