Jakarta, Warta Ahmadiyah — Toleransi tidak cukup dibicarakan sebagai nilai, tetapi perlu diwujudkan melalui kebijakan dan ruang perjumpaan yang memastikan setiap warga dapat hidup setara. Praktik tersebut disampaikan Wali Kota Salatiga, Robby Hernawan, dalam diskusi “Religious Freedom for All: Building Respect and Understanding” di atAmerica, Pacific Place Mall, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurut Robby, kelompok minoritas tidak seharusnya dipandang sebagai kelompok yang perlu ditekan, tetapi sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki hak yang sama. Karena itu, Pemerintah Kota Salatiga memastikan setiap kelompok memiliki keterwakilan dalam forum kerukunan umat beragama, tanpa melihat besar kecilnya jumlah anggota.
“Kelompok minoritas bukan untuk ditindas, tapi kelompok minoritas harus kita perlakukan setara. Setiap kelompok masyarakat ada keterwakilannya dalam forum kerukunan umat beragama. Seberapa pun jumlahnya, tetap ada keterwakilan,” ujarnya.
Baca juga: Religious Freedom for All, Ruang Perjumpaan Jadi Jalan Memperkuat Kebebasan Beragama
Ia menilai pendekatan tersebut menjadi salah satu cara menjaga kehidupan masyarakat Salatiga yang beragam. Bagi Robby, toleransi tidak cukup hanya diwujudkan melalui pernyataan, tetapi perlu hadir dalam tata kelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dalam momentum bulan kemerdekaan, Robby juga mengaitkan toleransi dengan cara mengisi kemerdekaan. Menurutnya, perjuangan para pahlawan perlu dilanjutkan dengan menjaga kerukunan dan memastikan seluruh umat beragama dapat hidup berdampingan secara damai.
“Hari kemerdekaan itu merupakan momentum untuk menumbuhkan semangat baru dengan mengingat jasa-jasa para pahlawan yang berdarah-darah untuk memperjuangkan kemerdekaan. Kita yang sudah mengisi kemerdekaan harus diisi dengan sebaik-baiknya, dengan tentunya menjaga kerukunan, salah satunya menjaga toleransi semua umat beragama,” katanya.
Baca juga: Sambut HUT RI ke-81, Ahmadiyah Wonosobo Gelar Donor Darah
Pengalaman Salatiga tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam forum yang juga menghadirkan Yenny Wahid, Direktur The Wahid Foundation; Bishop Antonius Subianto Bunjamin O.S.C., Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI); serta Yendra Budiana, Ketua Media Center Nasional Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang mewakili Amir Nasional JAI. Diskusi dimoderatori Siti Nurhayati, peneliti Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Paramadina.
Dalam forum tersebut, Sekertaris Pers sekaligus Juru Bicara Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Yendra Budiana menempatkan pengalaman kelompok keagamaan seperti Ahmadiyah dalam konteks kehidupan kebangsaan yang lebih luas. Menurutnya, kebebasan beragama tidak hanya berkaitan dengan kesempatan menjalankan ibadah, tetapi juga rasa aman, akses layanan publik, dan kesempatan untuk berkontribusi sebagai warga negara.

Tidak ada Respon