Jalsah Salanah Jemaat Ahmadiyah Dinilai Tegaskan Peran Agama sebagai Solusi

Munadi AhmadDaerah2 min
Dalam sesi sambutan Tamu Undangan, Prof. Raqib akui tersentuh dengan tema Jalsah Salanah "Saatnya Agama Menjadi Solusi, Bukan Sekedar Seremoni".
A-AA+A++

Banjarnegara, Warta Ahmadiyah — Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas sekaligus Direktur Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, KH. Prof. Dr. Mohammad Raqib, menilai tema Jalsah Salanah 2026 Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia mengingatkan bahwa agama tidak boleh berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi harus menghadirkan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat.

Pandangan tersebut disampaikannya saat menghadiri Jalsah Salanah Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia Wilayah Jawa Tengah–DIY di Banjarnegara, Sabtu (4/7/2026).

Menurut Prof. Raqib, banyak orang masih memandang agama sebatas identitas formal atau ritual keagamaan. Padahal, hakikat agama adalah menghadirkan jalan keluar bagi berbagai persoalan yang dihadapi manusia.

“Tema ini sangat menyentuh. Agama tidak boleh hanya menjadi formalitas atau seremoni, tetapi harus mampu menghadirkan solusi bagi masyarakat. Agama membawa berbagai alternatif penyelesaian persoalan kehidupan, dan itu yang perlu diwujudkan dalam praktik,” ujarnya.

Baca juga: Lajnah Imaillah Indonesia Dukung Klinik Edukasi KBB, Perkuat Kolaborasi Lintas Institusi

Ia menilai forum seperti Jalsah Salanah memiliki peran penting dalam memperkuat dialog, membangun saling pengertian, dan mengurangi kesalahpahaman yang kerap menjadi pemicu konflik sosial maupun keagamaan.

Menurutnya, banyak konflik lahir bukan karena perbedaan keyakinan, melainkan karena masyarakat belum saling mengenal dan memahami satu sama lain.

“Pertemuan seperti ini sangat penting karena menghadirkan ruang untuk saling mengetahui. Banyak konflik muncul dari persepsi yang keliru dan informasi yang tidak berdasar. Ketika orang bertemu, berdialog, dan saling memahami, kepercayaan akan tumbuh,” katanya.

Baca juga: Saatnya Agama Menjadi Solusi, Jalsah Salanah 2026 Angkat Peran Islam Menjawab Tantangan Zaman

Prof. Raqib menambahkan, kegiatan yang melibatkan peserta maupun tamu dari berbagai daerah juga memperluas jejaring sosial serta memperkuat penerimaan masyarakat terhadap keberadaan suatu komunitas.

Ia menegaskan bahwa agama yang benar-benar hidup selalu dimulai dari ilmu, kemudian diwujudkan dalam perilaku yang memberi manfaat bagi sesama. Sebaliknya, agama yang berhenti pada seremoni hanya menghasilkan aktivitas tanpa dampak nyata bagi kehidupan sosial.

“Kalau seseorang meyakini agamanya paling benar, tetapi perilakunya justru menimbulkan persoalan, konflik, dan tidak menghadirkan kemaslahatan, maka nilai agama itu belum terwujud dalam kehidupannya. Agama harus melahirkan perilaku yang membawa kesejahteraan, keteduhan, dan kebaikan bersama,” ujarnya.