Tasikmalaya, Warta Ahmadiyah- LKSA Hasanah Kautsar bersama KPAD Kota Tasikmalaya mengajak anak-anak asuh ikut serta dalam kegiatan diskusi bersama Sabtu, 7 Februari 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk mengasah pola kritis anak, kegiatan ini usung tema bullying: bercanda boleh, menyakiti jangan.
LKSA Hasanah Kautsar merupakan Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak Hasanah Kautsar dibawah naungan Orphan Care Humanity First Indonesia.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Sleman Kembali Hadirkan Cahaya Ilmu, Peresmian Rumah Belajar Noor ke-2 di DIY
Memiliki 12 anak asuh terdiri dari 5 anak laki-laki dan 7 anak perempuan, LKSA Hasanah Kautsar berada di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Berdiri pada 7 Juni 2003, LKSA Hasanah Kautsar telah memperoleh pengesahan pendirian dari Dinas Ketertiban dan Perlindungan Sosial Kota Tasikmalaya dengan Nomor 062/54/ORSos tertanggal 18 Juni 2003.
Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Tasikmalaya hadir di LKSA Hasanah Kautsar untuk memberikan materi tentang perundungan (bullying) anak dengan judul ‘Bercanda Boleh, Menyakiti Jangan’.
Baca juga: Haul Gus Dur Jadi Ruang Inklusif, Jemaat Ahmadiyah Rasakan Toleransi Nyata di Tasikmalaya
Di ruangan belajar anak perempuan, 12 anak asuh LKSA terlihat antusias dan segera menempati kursi-kursi ruangan yang kosong.
Dengan narasumber Khaerul Kusnaedi dan Salwa dari KPAD Kota Tasikmalaya, didampingi dengan Ellya selaku pengurus LKSA bidang pendidikan dan Tazkiyah Firdausi selaku staff keuangan LKSA Pengawas anak LKSA Perempuan.
Baca juga: Himpunan Mahasiswa Ahmadiyah Rawat Nalar Kritis Lewat Bedah Buku
Dengan penuh semangat, anak-anak berbagi cerita pengalaman mereka tentang perudungan.
Salah seorang anak asuh LKSA Hasanah Kautsar, Tahera menceritakan kesalahpahaman yang biasa terjadi dikalangan anak-anak perempuan seusianya.
Menanggapi curhatan tersebut, staf KPAD Kota Tasikmalaya, Khaerul Kusnadi menyoroti bahaya besar dari bullying.
“Dampak dari bullying sangat mempegaruhi masalah kesehatan jangka panjang, menurunnya rasa percaya diri, mempengaruhi psikis seseorang, stres, cemas bahkan depresi,” ujarnya.
“Dan mempengaruhi prestasi seorang anak dapat menjadi menurun”, sambung Khaerul
Tak hanya diskusi bersama, ada pula kakak asuh, bedah buku, skill building, study time juga menjadi program dari LKSA Hasanah Kautsar.
Para pengurus LKSA Hasanah Kautsar ikut memperhatikan psikologi dari anak-anak asuh.
Adanya kegiatan pemeriksaan kesehatan rutin, perkembangan anak ikut menjadi bentuk perhatian dari pengurus.
“Semoga sekolah dan lingkungan dapat menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif”, pesan Salwa. (*)
Kontributor: Deslia Nisrina Hanifa
Editor: Talhah Lukman A