Tangerang Selatan, Warta Ahmadiyah – Himpunan Mahasiswa Ahmadiyah yang terdiri dari Ahmadiyya Muslim Students Association (AMSA) dan Ahmadiyya Muslim Women Students Association (AMSAW) menggelar diskusi dan bedah buku.
Diskusi dan bedah buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia, 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan berlangsung di Gerak Gerik Coffe, Jumat 13 Februari 2026.
Sekitar 30 peserta dari berbagai komunitas hadir dalam kegiatan ini. Forum ini menegaskan peran mahasiswa Ahmadiyah sebagai subjek inklusif yang siap berpartisipasi dalam diskursus kebangsaan.
Baca juga: Program Masak dan Berbagi di Masjid Mahmudah Jemaat Ahamdiyah Gondrong Kenanga
Koordinator Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (MUDA), Achmad Fanani Rosyidi menilai kegiatan ini menunjukkan keberanian generasi muda Ahmadiyah untuk keluar dari zona nyaman dan aktif mewarnai ruang publik.
“Selama ini Ahmadiyah lebih sering menjadi objek pembicaraan, bukan subjek yang mewarnai diskursus. Buku ini, dan kehadiran rekan-rekan mahasiswa di sini, membuka ruang baru agar narasi tentang Islam dan Indonesia lebih inklusif,” ujar Fanani.
Ia menekankan bahwa bagi mahasiswa, memahami sejarah Ahmadiyah bukan sekadar soal teologi, melainkan tentang kualitas demokrasi dan hak asasi manusia.
Baca juga: Pengajian Jemaat Ahmadiyah Merauke Bahas Rukun Islam
Senada dengan itu, perwakilan Pemuda Ahmadiyah, Muhammad Ghifari Misbahuddin menjelaskan bahwa buku yang dibedah adalah kado satu abad kehadiran Ahmadiyah yang justru ditulis oleh para tokoh non-Ahmadi, sebuah simbol keterbukaan dan rekognisi moral.
Bagi AMSA dan AMSAW, keterlibatan dalam diskusi ini adalah manifestasi dari nilai Love for All, Hatred for None.
Barqy Nafsin Kaida dari Yayasan Inklusif memberikan refleksinya bahwa interaksi langsung dengan mahasiswa dan komunitas Ahmadiyah mampu meruntuhkan tembok prasangka.
Baca juga: Puluhan Peserta Hadiri Ijtima Waqaf e Nou Riau di Pangkalan Kerinci
“Yang saya temui adalah praktik keberagamaan yang secara sosial tidak berbeda dari Muslim pada umumnya. Saya tidak sepakat jika langsung distigma tanpa dialog,” ungkapnya.
Diskusi yang dipandu olehKetua Umum HMI Komfisip Ciputat, Ibnu tersebut berlangsung hangat dan kritis.Sejumlah anggota AMSA dan AMSAW aktif melontarkan pertanyaan dan pandangan, menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mewarisi sejarah, tetapi juga sedang membangun masa depan Indonesia yang lebih toleran melalui jalur intelektual.
Menuju Gerakan yang Berakar
Melalui forum ini, terlihat jelas bahwa mahasiswa Ahmadiyah sedang melakukan reposisi gerakan agar lebih dekat dengan persoalan riil masyarakat.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Resmikan Rumah Belajar Noor di Merauke
Dengan membedah sejarah mulai dari peran tokoh Pemuda Thawalib Sumatera hingga kedekatan historis dengan Bung Karno dan W.R. Supratman, mahasiswa diajak untuk memiliki akar sejarah yang kuat dalam keindonesiaan.
Diskusi dan bedah buku ini diharapkan menjadi langkah kecil namun berarti bagi AMSA dan AMSAW untuk terus konsisten merawat kebinekaan, memperkuat masyarakat sipil, dan membuktikan bahwa inklusivitas adalah kunci utama dalam memperjuangkan keadilan sosial di tanah air. *
Kontributor: Rodhiyah Mardhiyyah
Editor: Talhah Lukman A