Warisan Terbaik Orang Tua Ternyata Bukan Harta, tetapi Keteladanan

Munadi AhmadKeislaman3 min
Warisan terbaik orang tua bukan hanya harta, tetapi nilai kehidupan yang diwariskan melalui keteladanan.
A-AA+A++

Jakarta, Warta Ahmadiyah — Apa warisan terbaik yang dapat diberikan orang tua kepada anaknya? Bagi sebagian orang jawabannya mungkin pendidikan, rumah, atau tabungan. Namun dalam Islam, warisan yang paling berharga justru adalah nilai kehidupan yang diwariskan melalui keteladanan.

Menjelang Jalsah Salanah UK 2026, ribuan keluarga dari berbagai negara kembali bersiap menempuh perjalanan menuju pertemuan tahunan internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah. Di balik besarnya penyelenggaraan tersebut, tersimpan pemandangan yang terus berulang dari generasi ke generasi: orang tua datang bersama anak-anak mereka, bukan sekadar menghadiri sebuah acara keagamaan, tetapi mewariskan nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman yang dijalani bersama.

Baca juga: Pengajian Gabungan Jemaat Ahmadiyah Pagentan Tekankan Pentingnya Pendidikan Agama Sejak Dini

Al-Qur’an sendiri mengajarkan bahwa keluarga yang baik merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus dipersiapkan dengan penuh kesungguhan. Allah SWT berfirman:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan [25]: 74)

Doa tersebut menunjukkan bahwa harapan orang tua dalam Islam tidak berhenti pada keberhasilan duniawi, tetapi melahirkan generasi yang berakhlak, membawa kebaikan, dan menjadi teladan bagi sesama.

Sejalan dengan pesan Al-Qur’an tersebut, Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, mengingatkan bahwa pembentukan karakter anak merupakan tanggung jawab utama orang tua. Dalam bukunya Domestic Issues and Their Solutions, beliau menegaskan:

“Daripada anak belajar dari luar, banyak hal yang harus diajarkan sendiri oleh orang tua kepada anak-anak mereka.”

Baca juga: Baitul Futuh, Simbol Islam yang Tumbuh melalui Pelayanan dan Persaudaraan

Nilai tersebut tampak nyata selama penyelenggaraan Jalsah Salanah. Anak-anak tidak hanya mengikuti berbagai sesi pembinaan, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana ayah dan ibu melayani tamu, menjadi sukarelawan, menjaga kebersihan, menghormati sesama, serta bekerja bersama tanpa mengharapkan imbalan. Dari pengalaman sederhana itulah tumbuh pelajaran tentang tanggung jawab, kepedulian, dan keikhlasan.

Banyak anak kemudian ikut mengambil bagian dalam berbagai tugas sesuai usia, seperti membantu tamu menemukan lokasi, membagikan air minum, menjaga kebersihan, atau mendukung kelancaran kegiatan. Mereka belajar bahwa melayani bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari akhlak yang dibangun melalui kebiasaan dan keteladanan.

Bagi banyak keluarga Muslim Ahmadi, pengalaman tersebut menjadi warisan yang diteruskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang mereka dengar, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat setiap hari melalui sikap dan tindakan orang tuanya.