Hampshire, Warta Ahmadiyah — Mengapa seseorang mengulang janji yang sama setiap tahun? Pertanyaan itu mungkin muncul ketika puluhan ribu Muslim Ahmadi dari lebih dari 100 negara berkumpul menjelang Bai’at Internasional di Jalsah Salanah UK 2026, Hampshire, Inggris. Mereka datang bukan untuk menjadi anggota baru. Mereka datang untuk memperbarui komitmen agar pulang sebagai pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
Prosesi tersebut dikenal sebagai Bai’at, sebuah ikrar spiritual yang telah menjadi bagian dari tradisi Islam sejak masa Rasulullah SAW. Bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah, bai’at bukan dipahami sebagai janji kepada seorang pemimpin, melainkan janji kepada Allah SWT untuk terus memperbaiki akhlak, memperkuat hubungan dengan-Nya, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.
Pemahaman itu berangkat dari firman Allah SWT dalam Surah Al-Fath ayat 10:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbai’at kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berbai’at kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan mereka. Barang siapa melanggar janjinya, maka sesungguhnya ia melanggar janji itu terhadap dirinya sendiri. Dan barang siapa menepati janji yang telah diikrarkannya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 10)
Baca juga: Ketika Perdamaian Menjadi Cara Hidup, Tidak Ada Lagi Ruang bagi Kebencian
Ayat inilah yang menjadi salah satu landasan yang dijelaskan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) ketika memulai bai’at pada 23 Maret 1889, yang kemudian menandai berdirinya Jemaat Muslim Ahmadiyah. Sejak saat itu, bai’at dipahami sebagai awal perjalanan untuk terus memperbaiki diri, bukan sekadar sebuah prosesi keagamaan.
Sumber: The Conditions of Bai’at, Alislam.org.
Tradisi bai’at sendiri telah dikenal sejak masa Rasulullah SAW. Para sahabat menyampaikan bai’at sebagai bentuk komitmen untuk tetap berpegang pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa meninggal dunia tanpa bai’at di lehernya, maka ia meninggal dalam keadaan seperti mati jahiliah.”
(HR. Muslim No. 1851)
Baca juga: Staf Khusus Kemenag RI: Islam Berakar Perdamaian dan Penghormatan terhadap Sesama
Menjelaskan hakikat bai’at, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as) menulis:
“Berbai’at berarti menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Artinya, pada hari ini kita menjual kehidupan kita kepada Allah.”
(The Conditions of Bai’at, Alislam.org)
Karena itu, anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah yang telah berbai’at bertahun-tahun tetap mengikuti Bai’at Internasional setiap penyelenggaraan Jalsah Salanah. Prosesi tersebut bukan untuk mengulang status keanggotaan, melainkan menjadi kesempatan mengevaluasi diri sekaligus memperbarui tekad menjalani hidup sesuai ajaran Islam.
Makna tersebut terus ditekankan Khalifah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, yang mengingatkan bahwa bai’at tidak berhenti pada sebuah ikrar.

Tidak ada Respon