Hampshire, Warta Ahmadiyah — Prosesi Bai’at Internasional berlangsung dalam Jalsah Salanah UK 2026, pemandangan yang terlihat begitu sederhana sekaligus mengesankan. Puluhan ribu Muslim Ahmadi dari lebih dari 100 negara saling memegang pundak satu sama lain agar dapat terhubung dengan tangan Khalifah. Mereka berasal dari bahasa, budaya, profesi, dan latar belakang yang berbeda, tetapi mengucapkan janji yang sama di hadapan Allah SWT. (26/7/2026)
Bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah, Bai’at bukan sekadar seremoni tahunan. Prosesi tersebut menjadi pengingat bahwa keimanan tidak berhenti pada sebuah ikrar, melainkan diwujudkan melalui perubahan sikap, akhlak, dan cara memperlakukan sesama dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai-nilai itu berakar pada 10 syarat Bai’at yang disampaikan Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as). Kesepuluh syarat tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membentuk karakter seorang mukmin agar jujur, rendah hati, mampu mengendalikan diri, menjauhi kezaliman, menghormati hak orang lain, serta menjadikan hidupnya bermanfaat bagi masyarakat.
Baca juga: Mengapa Puluhan Ribu Muslim Ahmadi Mengulang Janji yang Sama Setiap Tahun?
Menurut Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as), bai’at bukan sekadar pernyataan kesetiaan, melainkan jalan untuk membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah serta menumbuhkan perubahan rohani dalam diri seseorang. Dalam bukunya Kebutuhan akan Imam, beliau menulis:
“Tujuan sebenarnya dari Bai’at adalah untuk memperoleh pengetahuan spiritual, berkah, dan tanda-tanda yang mendatangkan taubat sejati. Tujuan sebenarnya dari Bai’at adalah untuk mengikatkan diri kepada pemimpin dan pembimbing spiritual, kemudian memperoleh pengetahuan, wawasan spiritual, dan keberkahan yang memperkuat iman, mempertajam penglihatan rohani, serta membangun hubungan yang murni dengan Tuhan.”
Karena itu, Bai’at dipahami sebagai awal perjalanan memperbaiki diri. Janji tersebut tidak berhenti ketika prosesi selesai, tetapi terus diwujudkan melalui amal, akhlak, dan pengabdian kepada sesama.
Baca juga: Ketika Perdamaian Menjadi Cara Hidup, Tidak Ada Lagi Ruang bagi Kebencian
Semangat itu terus ditekankan Khalifah Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, yang mengingatkan bahwa bai’at bukanlah janji yang cukup diucapkan sekali seumur hidup.
“Bai’at bukan sekadar janji yang diucapkan sekali dalam hidup. Bai’at menuntut pembaruan diri yang terus-menerus serta pengamalan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.”
Karena itulah, prosesi Bai’at Internasional selalu diikuti oleh anggota Jemaat yang telah berbai’at bertahun-tahun. Mereka tidak datang untuk mengulang status keanggotaan, melainkan memperbarui tekad agar nilai-nilai yang pernah mereka ikrarkan tetap hidup dalam keseharian.

Tidak ada Respon