Yogyakarta, Warta Ahmadiyah – Jemaat Muslim Ahmadiyah Yogyakarta menerima kunjungan peserta program Sekolah Lintas Iman (SLI) XVII yang diselenggarakan oleh Institut DIAN/Interfidei pada Sabtu, 7 Maret 2026.
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 09.00–12.00 WIB tersebut dihadiri oleh 33 peserta dari berbagai latar belakang akademik dan keagamaan.
Program Sekolah Lintas Iman merupakan inisiatif pendidikan lintas agama yang melibatkan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Kristen Duta Wacana, Universitas Sanata Dharma, dan UIN Sunan Kalijaga.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Jakarta Timur Bagikan 400 Paket Sembako Gratis
Tahun ini kegiatan mengangkat tema ‘Kesehatan Mental, Tantangan Hidup Berkeluarga, Beragama dan Bermasyarakat di Era Teknologi Modern.’
Dari pihak Jemaat Muslim Ahmadiyah Yogyakarta hadir Mln. Basyiruddin Suhartono (Mubaligh Daerah DIY), Irfan Sukma Ardiatama (Ketua Pemuda JAI Yogyakarta), serta Mln. Dildaar Ahmad Dartono (Mubaligh Cabang Piyungan). Dalam sesi pemaparan, Irfan Sukma Ardiatama memperkenalkan sejarah perkembangan Jemaat Ahmadiyah di Yogyakarta, termasuk peran tokoh awal Ahmad Sarido, serta menjelaskan perbedaan antara Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) dan JAI.
Sementara itu, Mln. Basyiruddin dan Mln. Dildaar menjelaskan sejumlah pandangan teologis Jemaat Ahmadiyah, termasuk pemahaman mengenai konsep dajjal, imam mahdi, jihad serta pentingnya mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an.
Sesi dialog berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, mulai dari konsep teologi Ahmadiyah, pendidikan agama dalam keluarga, hingga pandangan Ahmadiyah terkait kesehatan mental.
Baca juga: Lajnah Imailah Tasikmalaya dan Kawalu Hadiri Seminar Kesehatan dari GOW
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan berbagai kontribusi sosial jemaat, antara lain melalui organisasi kemanusiaan global Humanity First serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Salah seorang mahasiswa dari Universitas Kristen Duta Wacana mengaku terkesan dengan penjelasan mengenai konsep jihad dalam Jemaat Ahmadiyah.
Menurutnya, pemahaman jihad sebagai perjuangan melalui ilmu pengetahuan, dialog, dan penyebaran wawasan yang sering disebut sebagai jihad dengan pena memberikan perspektif baru tentang bagaimana ajaran agama dapat diwujudkan secara damai dalam kehidupan bermasyarakat.
Baca juga: Pesantren Ramadhan, Jemaat Ahmadiyah Singaparna Bina Generasi Tangguh dan Berakhlak
Menutup pertemuan, Mln. Bashiruddin Suhartono mengajak para peserta untuk menghindari prasangka terhadap pihak lain.
Pasalnya prasangka dapat menimbulkan kebencian dan menghambat terciptanya kehidupan yang damai.
Kunjungan ini diharapkan semakin memperkuat dialog dan saling pengertian antarumat beragama. *
Kontributor: Rifqi Arianto Qasid Ahmad
Editor: Talhah Lukman A