Jakarta, Warta Ahmadiyah — Berawal dari sebuah pertemuan sederhana yang dihadiri puluhan orang di Qadian, India, lebih dari satu abad lalu, Jalsah Salanah kini berkembang menjadi salah satu pertemuan tahunan umat Islam berskala internasional yang mempertemukan puluhan ribu peserta dari berbagai negara. Menjelang Jalsah Salanah UK 2026, perjalanan panjang tersebut kembali mengingatkan bahwa persatuan dibangun melalui nilai, bukan oleh kesamaan bangsa, bahasa, ataupun budaya.
Jalsah Salanah pertama kali diselenggarakan pada tahun 1891 atas prakarsa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi dan Al-Masih yang Dijanjikan menurut keyakinan Jemaat Muslim Ahmadiyah. Sejak awal, tujuan Jalsah bukan sekadar menghadirkan sebuah pertemuan besar, melainkan menjadi sarana meningkatkan hubungan manusia dengan Allah, memperkuat persaudaraan, memperdalam pemahaman agama, serta membentuk akhlak yang lebih baik.
Seiring berkembangnya Jemaat Muslim Ahmadiyah di berbagai belahan dunia, Jalsah Salanah turut berkembang menjadi forum internasional yang mempertemukan peserta dari puluhan hingga ratusan negara. Di Inggris, penyelenggaraan Jalsah Salanah telah menjadi salah satu agenda tahunan terbesar Jemaat Muslim Ahmadiyah dengan kehadiran lebih dari 50.000 peserta dari berbagai latar belakang bangsa, profesi, dan budaya.
Baca juga: Jalsah Salanah UK 2026, Huzur Serukan Ketaatan dan Keikhlasan sebagai Tujuan Utama Kehadiran
Meski berasal dari beragam bahasa dan tradisi, seluruh peserta berkumpul dengan tujuan yang sama, yaitu memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah, serta mendengarkan nasihat Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, sebagai pemimpin spiritual Jemaat Muslim Ahmadiyah sedunia.
Keberagaman tersebut justru menjadi salah satu ciri khas Jalsah Salanah. Di tengah dunia yang masih diwarnai konflik identitas dan polarisasi, Jalsah menghadirkan gambaran tentang bagaimana perbedaan dapat dipersatukan oleh nilai-nilai keimanan, kedisiplinan, serta semangat saling melayani.
Bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah, persaudaraan tidak dibangun karena kesamaan suku ataupun kewarganegaraan, melainkan karena komitmen bersama untuk mengamalkan ajaran Islam yang mengedepankan kasih sayang, keadilan, dan pengabdian kepada kemanusiaan. Semangat itulah yang kemudian dikenal luas melalui motto “Love for All, Hatred for None.”
Baca juga: Halili Hasan Hadiri Jalsah Salanah UK 2026, Pelajari Persatuan dan Perdamaian
Menjelang penyelenggaraan Jalsah Salanah UK 2026, ribuan peserta dari berbagai negara kembali bersiap berkumpul di Inggris. Selain menjadi ajang pembinaan rohani, Jalsah juga menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterjemahkan dalam kehidupan yang damai, tertib, dan penuh penghormatan terhadap sesama.
Lebih dari 130 tahun sejak pertama kali diselenggarakan, Jalsah Salanah tetap mempertahankan tujuan yang sama sebagaimana dirintis oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (as): membentuk manusia yang semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, serta semakin besar manfaatnya bagi masyarakat. Dari sebuah pertemuan kecil di Qadian, Jalsah Salanah kini menjadi simbol bahwa persatuan umat dapat tumbuh ketika dibangun di atas iman, akhlak, dan tujuan bersama, melampaui batas-batas bangsa maupun budaya.

Tidak ada Respon