Staf Khusus Kemenag RI saksikan nilai nilai Islam dalam Jalsah Salanah Internasional Muslim Ahmadiyah UK 2026

Munadi AhmadMancanegara2 min
Farid Fachruddin Saenong menilai Jalsah Salanah UK 2026 memperlihatkan wajah Islam yang damai, inklusif, dan menjunjung persaudaraan.
A-AA+A++

Hampshire, Warta Ahmadiyah — Koordinator Staf Khusus Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Farid Fachruddin Saenong, mengajak masyarakat melihat kembali Islam sebagai jalan damai setelah mengikuti Jalsah Salanah UK 2026 di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris, Minggu (26/7/2026).

Menurutnya, pengalaman mengikuti pertemuan internasional tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persaudaraan, pelayanan, dan penghormatan kepada sesama.

Dalam sambutannya di hadapan puluhan ribu peserta dari berbagai negara, Farid menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar tujuan dalam Islam, melainkan cara hidup yang harus diwujudkan oleh setiap Muslim.

Baca juga: Hindari Prasangka , Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden cek fakta langsung kehidupan Muslim Ahmadiyah di Inggris

“Dalam Islam, damai bukan hanya tujuan. Damai adalah cara hidup. Bahkan kata Al-Islam berasal dari akar kata yang sama dengan As-Salam, yang berarti damai,” ujarnya.

Guru Besar sekaligus Direktur Center for Islam and Global Challenges Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) itu menjelaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan umat Islam untuk membangun keadilan, kasih sayang, serta menghormati martabat setiap manusia tanpa membedakan latar belakang maupun keyakinannya.

Menurut Farid, ajaran tersebut juga menjadi landasan Kurikulum Berbasis Cinta, salah satu program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia yang selama ini sering dipahami hanya sebagai pembaruan materi pendidikan.

Baca juga: Ketua Komnas Perempuan RI temukan optimisme Pemberdayaan Perempuan dari Sebuah Pertemuan Umat Islam di Inggris

“Banyak orang mengira Kurikulum Berbasis Cinta hanya berkaitan dengan bahan ajar di sekolah. Padahal jauh lebih luas daripada itu. Ia membangun kualitas dasar untuk menghadirkan kedamaian dan cinta di tengah masyarakat,” katanya.

Selama mengikuti Jalsah Salanah UK 2026, Farid mengaku melihat bagaimana nilai-nilai tersebut dipraktikkan dalam kehidupan sebuah komunitas internasional. Peserta dari berbagai bangsa, bahasa, dan budaya berkumpul dalam suasana saling menghormati, bekerja sama, dan melayani satu sama lain.

Baginya, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa agama akan memiliki makna ketika diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Farid berharap pengalaman yang ia peroleh di Inggris dapat menjadi pengingat bahwa tantangan kehidupan modern tidak dapat dijawab hanya dengan perdebatan keagamaan, tetapi juga melalui praktik kehidupan yang memperkuat perdamaian, kemanusiaan, dan persaudaraan.