Hampshire, Warta Ahmadiyah — Koordinator Staf Khusus Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Farid Fachruddin Saenong, mengajak masyarakat memperkuat budaya damai dan menolak kebencian saat menyampaikan sambutan pada Jalsah Salanah UK 2026 di Hampshire, Inggris, Sabtu (26/7/2026). Menurutnya, Islam sejak awal mengajarkan perdamaian sebagai cara hidup, bukan sekadar cita-cita.
Farid, yang juga menjabat Direktur Center for Islam and Global Challenges (IGC), Fakultas Studi Islam Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), menjelaskan bahwa kata Islam berasal dari akar kata yang sama dengan as-salam, yang berarti damai. Karena itu, setiap Muslim dipanggil untuk memperlakukan siapa pun dengan keadilan, kasih sayang, dan penghormatan tanpa membedakan latar belakang maupun keyakinannya.
“Dalam Islam, damai bukan hanya tujuan. Damai adalah cara hidup.” ujarnya.
Baca juga: Jalsah Salanah UK 2026 Tegaskan Islam Hadir Melalui Ketakwaan, Perdamaian, dan Pengabdian
Pandangan tersebut selaras dengan firman Allah SWT:
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156)
Menurut Farid, ayat tersebut menegaskan bahwa kasih sayang Allah bersifat universal. Nilai itulah yang menjadi dasar seorang Muslim membangun hubungan yang adil, menghormati martabat manusia, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan bersama.
Ia juga mengingatkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW memberikan teladan melalui pengampunan, kesabaran, dan kelembutan, bahkan kepada mereka yang memusuhi beliau. Dari kehidupan Nabi, umat Islam belajar bahwa kekuatan tidak diukur dari kemampuan membalas kebencian, melainkan dari kemampuan menyelesaikan konflik dengan kebijaksanaan dan rasa hormat.
Baca juga: Staf Khusus Kemenag RI: Islam Berakar Perdamaian dan Penghormatan terhadap Sesama
Direktur IGC itu mengakui masih banyak pengalaman pahit yang dialami berbagai kelompok akibat diskriminasi dan prasangka. Meski demikian, ia mengajak seluruh pihak tetap memandang masa depan dengan optimisme dan terus membangun ruang hidup yang damai bagi semua, termasuk bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah di Indonesia maupun di berbagai negara.
Sebagai bagian dari masyarakat global, Farid menilai setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memperkuat saling pengertian, menolak kebencian, dan membangun jembatan antarmanusia melalui penghormatan, pengampunan, serta belas kasih.
“Love for All, Hatred for None.”

Tidak ada Respon