Yogyakarta, Warta Ahmadiyah – Solidaritas Korban Tindak Pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan (Sobat-KBB) bersama The Asia Foundation (TAF), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), serta Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Yogyakarta menggelar workshop bagi orang muda pada 1–2 September 2026 di Masjid Fadhli Umar, Yogyakarta.
Mengangkat tema Workshop Orang Muda untuk Dukungan Psikososial dan Psychological First Aid (PFA) di Isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Yogyakarta–Jawa Tengah, kegiatan ini diikuti sekitar 22 peserta dari beragam latar belakang, seperti mahasiswa, aktivis kemanusiaan, dan penghayat kepercayaan.
Kegiatan bertujuan meningkatkan kapasitas orang muda dalam merespons peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, khususnya dalam memahami kesehatan mental, memberikan dukungan psikososial, serta membangun ketahanan individu dan komunitas korban maupun kelompok rentan.
Workshop turut menghadirkan psikiater dan psikolog klinis sebagai narasumber.
Selain kompetensi profesional, pengalaman sebagai relawan menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan narasumber agar materi dapat disampaikan dengan memahami dinamika diskriminasi, intoleransi, dan persekusi.
Masjid Fadhli Umar dipilih sebagai lokasi kegiatan karena rekam jejak JAI Yogyakarta dalam isu kemanusiaan dan keberagaman.
Selama dua hari, peserta mengikuti diskusi dan pembelajaran dalam ruang aman yang dibangun bersama, sekaligus bertukar pengalaman lintas latar belakang.
Salah satu peserta, Wahid menyampaikan kesan yang sangat mendalam bahwa, ruang perjumpaan antar agama/golongan memang sangat diperlukan untuk menghindari misinformasi.
Di acara ini kita diajak mengenal sudut pandang korban dan apa yang dirasakan dari setiap peserta yang hadir, dimana sebagian dari peserta adalah korban diskrimanasi.
Pesannya adalah, mari kita bisa mengenal perbedaan langsung dari sumbernya, sehingga akan dapat lebih mudah kita untuk saling mengenal dan menerima perbedaan itu sediri.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kelompok untuk menghadirkan dukungan kemanusiaan yang lebih utuh bagi masyarakat yang terdampak diskriminasi, intoleransi, dan konflik. *

Tidak ada Respon