Khalifah Ahmadiyah tentang Kemanusiaan Hidup dalam Pengabdian Jemaat di Indonesia

Munadi AhmadNasional3 min
Relawan Humanity First Indonesia memberikan layanan kesehatan kepada warga terdampak bencana sebagai wujud nyata kemanusiaan yang melampaui perbedaan, menghadirkan kepedulian bagi setiap insan yang membutuhkan.
A-AA+A++

Jakarta, Warta Ahmadiyah — Bagi Khalifatul Masih V Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, kemanusiaan bukanlah sekadar aktivitas sosial, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari pengamalan ajaran Islam. Menurut beliau, ukuran keberhasilan seorang Muslim tidak hanya terletak pada ibadah ritual, tetapi juga pada sejauh mana ia mampu menghadirkan manfaat bagi kehidupan sesama manusia.

Pesan tersebut kembali ditekankan Hazrat Mirza Masroor Ahmad saat menyampaikan pidato pada Humanity First International Conference 2025 yang menandai 30 tahun perjalanan Humanity First. Dalam kesempatan itu, beliau mengingatkan bahwa pelayanan kepada manusia merupakan salah satu ajaran mendasar Al-Qur’an yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Mengabdi kepada kemanusiaan merupakan salah satu ajaran mendasar dalam Al-Qur’an.”

Pimpinan Internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah  juga menegaskan bahwa Humanity First tidak dibangun untuk mencari pengakuan atau popularitas, melainkan sebagai bentuk pengabdian kepada Allah melalui pelayanan kepada sesama.

“Berbeda dengan organisasi-organisasi duniawi, Humanity First tidak mengabdi kepada kemanusiaan demi meraih ketenaran atau pengakuan. Sebaliknya, setiap bentuk pengabdiannya lahir semata-mata dari pengabdian kepada Allah Ta’ala.”

Baca juga: Hari Kepercayaan terhadap Tuhan, Saling Percaya Kunci Merawat Keberagaman

Semangat tersebut menjadi landasan berbagai gerakan kemanusiaan yang dijalankan Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia. Melalui Humanity First Indonesia, berbagai program sosial terus dikembangkan, mulai dari respons kebencanaan, pelayanan kesehatan, bantuan pendidikan, penyediaan air bersih, hingga pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.

Komitmen yang sama juga tercermin dalam gerakan donor darah yang telah menjadi budaya pengabdian di lingkungan Jemaat. Secara berkala, cabang-cabang Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) menyelenggarakan donor darah sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama tanpa memandang agama, suku, maupun latar belakang penerima manfaat. Bagi Jemaat, setetes darah yang disumbangkan merupakan ikhtiar sederhana untuk menyelamatkan kehidupan orang lain.

Baca juga: MKA Pagentan Pererat Silaturahmi Generasi Muda Ahmadiyah Melalui Khuddam Connect

Kontribusi kemanusiaan tersebut semakin nyata melalui Gerakan Donor Kornea Mata yang telah berlangsung sejak 1985. Ribuan anggota Jemaat secara sukarela mendaftarkan diri sebagai calon pendonor kornea agar setelah wafat mereka masih dapat memberi manfaat dengan menghadirkan kembali cahaya bagi mereka yang kehilangan penglihatan akibat kerusakan kornea.

Atas konsistensi gerakan tersebut, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia dianugerahi Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai komunitas dengan anggota pendonor kornea mata terbanyak secara berkesinambungan. Pengakuan itu kembali diperkuat pada 2025 ketika Bank Mata Indonesia menyebut Jemaat Ahmadiyah sebagai komunitas pendonor kornea terbanyak di Indonesia.