Hari Kepercayaan terhadap Tuhan, Saling Percaya Kunci Merawat Keberagaman

Munadi AhmadNasional3 min
Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, tegaskan Agama adalah implementasi dari kasih sayang, belas kasih, dan menghargai sesama.
A-AA+A++

Jakarta, Warta Ahmadiyah — Peringatan Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya membangun kehidupan bermasyarakat yang dilandasi saling menghormati, kepercayaan, dan kerja sama di tengah keberagaman Indonesia.

Peringatan tahun ini menjadi yang pertama setelah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 135 Tahun 2026. Penetapan tersebut dimaksudkan sebagai pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman, penghormatan terhadap martabat setiap warga negara, serta kebebasan setiap orang untuk menjalankan keyakinannya.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan sosial, penguatan hubungan antarumat beragama dinilai tidak cukup hanya melalui seremoni atau peringatan sesaat. Nilai-nilai keagamaan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan rasa aman, saling menghargai, serta memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Sejumlah tokoh lintas agama dan masyarakat dalam berbagai forum dialog selama beberapa waktu terakhir juga menekankan bahwa ruang-ruang perjumpaan menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun kepercayaan publik. Melalui dialog dan interaksi yang terbuka, prasangka dapat dikurangi, sementara kerja sama untuk kepentingan masyarakat dapat semakin diperkuat.

Baca juga: MKA Pagentan Pererat Silaturahmi Generasi Muda Ahmadiyah Melalui Khuddam Connect

Pesan serupa juga disampaikan Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, yang menekankan bahwa ajaran agama semestinya melahirkan kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, serta perdamaian bagi seluruh masyarakat.

“Agama seharusnya menjadi sarana untuk menumbuhkan kasih sayang, belas kasih, dan rasa saling menghormati di tengah masyarakat.” pada pidatonya yang disampaikan dalam acara Peresmian Bait ur Raheem Mosque, Cardiff, Wales, pada tahun 2025.

Khalifah Jemaat Muslim Ahmadiyah ke-5 menegaskan bahwa nilai-nilai agama akan memiliki makna ketika tercermin dalam akhlak dan pelayanan kepada sesama tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun kelompok.

Semangat tersebut sejalan dengan prinsip kehidupan berbangsa di Indonesia yang menempatkan kebebasan beragama dan saling menghormati sebagai bagian penting dalam menjaga persatuan nasional. Di tengah masyarakat yang majemuk, setiap warga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang yang aman bagi setiap orang dalam menjalankan keyakinannya sesuai konstitusi.

Baca juga: Wisata Tarbiyat Jemaat Ahmadiyah Gondrong, Tumbuhkan Kecintaan kepada Allah SWT

Bagi Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, penghormatan terhadap keyakinan orang lain merupakan bagian dari ajaran Islam yang mengedepankan keadilan, kasih sayang, dan kemaslahatan bersama. Karena itu, upaya memperkuat dialog, membangun kolaborasi lintas komunitas, serta menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat terus menjadi bagian dari komitmen Jemaat dalam kehidupan kebangsaan.

Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Syahid, menegaskan bahwa semangat tersebut sejalan dengan misi kemanusiaan yang terus dipegang oleh Jemaat Ahmadiyah di berbagai belahan dunia.

“Kami Jemaat Muslim Ahmadiyah, baik di Indonesia maupun di semua tempat di dunia, sebetulnya hanya punya satu pesan dan juga satu misi, yaitu cinta untuk semua dan kebencian tidak untuk siapa pun.” pesan ini di sampaikannya pada saat Wawancara dengan Media IDN Times, (12/6/2026).

Menurutnya, pesan tersebut merupakan ajakan untuk membangun kehidupan bersama yang dilandasi kasih sayang, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen menjaga perdamaian sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai Islam.