Tasikmalaya, Warta Ahmadiyah- Lajnah Imailah Daerah Tasikmalaya menghadiri kegiatan Literacy for Peace: Kelas Inspirasi bertema ‘Bergerak Bersama Merawat Perdamaian dengan Suara Perempuan’.
Sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh the Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia dan Komunitas Wewengkon Baca Cipakat (KAWACA) pada Minggu, 4 Januari 2026 di Aula Desa Cipakat, Tasikmalaya.
Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta dari unsur pemerintah desa, komunitas literasi, kelompok anak muda lintas iman seperti NU, Jemaat Ahmadiyah, dan IJABI.
Terdapat pula organisasi kepemudaan, Sekolah Perempuan, mahasiswa, serta pelajar.
Acara ini juga melibatkan Jemaat Ahmadiyah dengan kehadiran lima orang Lajnah Imaillah muda sebagai perwakilan, yakni Anisa Islamiati Noor, Nunun Nur Ainia, Faiza Tazkia Hazeva, Amatussalam, dan Attiyatussalam.
Peserta diajak menyaksikan dan mendiskusikan film dokumenter ‘Beta Mau Jumpa’ yang mengangkat proses rekonsiliasi pascakonflik Ambon 1999–2002.
Film tersebut menyoroti peran perempuan dan generasi muda dalam merawat perdamaian serta membangun kembali relasi antara komunitas Kristen dan Muslim yang sempat tersegregasi akibat konflik.
Rina Marlina, fasilitator AMAN Indonesia menegaskan bahwa peran perempuan dalam menciptakan perdamaian kerap luput dari pengakuan.
“Banyak sekali peran-peran perempuan yang selama ini sudah bergerak menciptakan perdamaian, tetapi tidak dianggap. Kadang mereka tidak lantang, tetapi di situlah perdamaian justru bertahan melalui cara-cara perempuan,” ujarnya.
Selain diskusi film, kegiatan ini menghadirkan Kaprodi KPI UNIK Cipasung, Isti’anah, sebagai pemateri yang membahas potensi konflik di Indonesia serta peran strategis perempuan dalam pencegahan konflik.
Ia menyoroti kekuatan khas perempuan dalam membangun jejaring sosial.
“Keunikan perempuan itu adalah kemampuannya berjejaring. Kecerewetan perempuan justru menarik orang lain untuk bergabung,” kata Isti’anah.
Diskusi juga mengaitkan pesan film dengan nilai multikulturalisme, keadilan sosial, serta perspektif Islam progresif yang menekankan keterbukaan dan dialog lintas iman.
Pada sesi akhir, peserta membahas potensi konflik lokal di Tasikmalaya dan menilai literasi perdamaian sebagai strategi penting yang digerakkan oleh perempuan dan kelompok anak muda di tingkat komunitas. *
Kontributor: Nunun N. Ainia
Editor: Talhah Lukman A