Gorontalo – Jemaat Ahmadiyah Gorontalo mengadakan buka puasa bersama (bukber)dengan mengundang warga.
Bagi masyarakat Gorontalo di penghujung Ramadhan terkenal dengan tradisi tumbilotohe.
Tradisi tersebut diaplikasikan oleh Jemaat Ahmadiyah Gorontalo dengan mengadakan kegiatan buka puasa du Masjid Baitul Futuh, Gorontalo pada Minggu 23 Maret 2025.
Baca juga: Ramadhan Damai, Kades Cipakat Hadiri Sedekah Ramadhan Jemaat Ahmadiyah Singaparna
Tidak hanya diikuti anggota, warga masyarakat sekitar masjid juga diundang dalam bukber.
Buka puasa bersama sekaligus acara peringatan Hari Masih Mauud ini antusias diikuti anggota Jemaat Ahmadiyah Gorontalo.
Diawali dengan materi utama berjudul Hakikat Lailatur Qadar yang disampaikan oleh Mubaligh Daerah Jemaat Ahmadiyah Gorontalo, Mln. Nanang Supriatna yang kegiatan berlangsung khidmat dan penuh rahmat.
Baca juga: Anggota Jemaat Ahmadiyah Manislor Turun Tangan, Bantu Pencarian Anak Hanyut
Di penghujung acara dilakukan diskusi tanya-jawab. Salah satunya seputar itikaf.
Peserta yang hadir cukup antusias dan aktif menyimak penjelasan yang diuraikan dan disampaikan oleh Mln. Nanang Supriatna.
Reva, seorang peserta mengatakan tertarik untuk melakukan dzikir atau itifkaf seperti yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah dengan meninggalkan sejenak segala urusan dunia dan semata-mata untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Baca juga: Peringati Hari Masih Mauud, Jamiah Ahmadiyah Indonesia Selenggarakan Bedah Buku Sirat Al Abdal
Menjelang adzan maghrib, acara ditutup doa bersama kemudian sholat maghrib berjamaah, tidak lupa makan bersama.
Sementara itu ketua panitia, Dikki Shadiq mengatakan ini adalah kali pertama bagi Jemaat Ahmadiyah Gorotanlo mengundang warga dan masyarakat lintas iman.
“Diharapkan di masa mendatang bisa semakin banyak kegiatan yang mengundang saudara-saudara di luar Jemaat Ahmadiyah,” ucapnya.
Lebih lanjut, kata Dikki kegiatan ini membuktikan bahwa Jemaat Ahmadiyah juga bagian dari Islam.
“Mereka melihat secara langsung bagaimana cara kita sholat, ke mana kiblat kita menghadap saat shalat, dan bacaan surah-surah,” terangnya. *
Sebagai informasi, tumbilotohe adalah tradisi masyarakat Gorontalo. Tumbilotohe berasal dari bahasa Gorontalo, tumbilo yang berarti memasang dan tohe yang berarti lampu.
Tradisi ini bermakna menyalakan lampu untuk menyambut malam Lailatul Qadar di akhir Ramadan.
Konon salah satu kegunaannya adalah untuk menerangi jalan bagi orang-orang yang mencari malam lailatul qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. *