Stafsus Kemenag RI: Generasi Muda Perlu Perkuat Literasi untuk Rawat Kerukunan

Munadi AhmadNasional2 min
Dedi Slamet Riyadi, Staf Khusus Menteri Agama RI, mendorong generasi muda memperkuat literasi keagamaan dan wawasan kebangsaan untuk menjaga kerukunan di era digital.
A-AA+A++

Bogor, Warta Ahmadiyah — Staf Khusus Menteri Agama RI Bidang Kerukunan Umat Beragama, Dedi Slamet Riyadi., menyampaikan pentingnya penguatan literasi keagamaan dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda dalam menjaga kerukunan di tengah perkembangan informasi digital.

Hal tersebut disampaikannya dalam Sarasehan Wawasan Kebangsaan di Baitul ‘Affiyat, Kemang, Bogor, Minggu (23/8/2026). Ia menilai penggunaan media sosial membuat generasi muda semakin banyak memperoleh informasi secara singkat dan instan.

“Sering kali mereka bertumpu pada media sosial, internet, dan data-data yang ada di internet untuk merujuk pada berbagai hal dalam kehidupan mereka. Sehingga itu berpengaruh terhadap pola interaksi yang lebih real dengan sesamanya,” ujarnya.

Baca juga: Amir Nasional JAI: Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah keberagaman Indonesia, termasuk keberagaman agama, keyakinan, suku, dan budaya yang telah berkembang sebelum Indonesia merdeka. Pemahaman tersebut dinilai penting dalam melihat kehidupan kebangsaan secara lebih utuh.

“Ketika mereka menyadari dan mengetahui keberagaman, perbedaan, dan interaksi yang terbangun di antara kelompok masyarakat jauh di masa lalu sebelum Indonesia merdeka, insya Allah mereka akan lebih memahami Indonesia,” katanya.

Dalam konteks perbedaan keyakinan, Dedi mengajak generasi muda menyikapinya secara rasional dan tidak menjadikan perbedaan tafsir sebagai alasan untuk melakukan diskriminasi. Ia menyebut Ahmadiyah sebagai salah satu kelompok dalam dinamika keberagaman umat Islam yang perlu dipahami melalui dialog.

Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Pagelaran Ikut Peringati HUT RI, Hadiri Upacara Bersama Tokoh Agama

Staff Khusus Kementerian Agama itu juga mendorong ruang perjumpaan antarkelompok terus diperbanyak. Menurutnya, pertemuan langsung dapat membantu masyarakat mengenal kelompok yang berbeda, sebagaimana dialog pemuda yang pernah dilakukan Kementerian Agama dengan melibatkan berbagai organisasi dan kelompok keagamaan.

“Proses-proses perjumpaan semacam itu harus lebih banyak dilakukan. Semakin sering kita berjumpa, itu akan semakin kuat pula ikatan cinta yang terjalin di antara kita,” tambahnya.

Ia turut mendorong kolaborasi lintas kelompok dalam menghadapi persoalan bersama, seperti kebencanaan, lingkungan, perubahan iklim, dan perkembangan teknologi informasi.