Maria Ulfah Nilai “Love for All, Hatred for None” Semakin Relevan di Tengah Dunia yang Terbelah

Munadi AhmadMancanegara2 min
Maria Ulfah di Jalsah Salanah UK 2026 menilai pesan "Love for All, Hatred for None" semakin relevan di tengah konflik dan diskriminasi.
A-AA+A++

Hampshire, Warta Ahmadiyah — Pesan Love for All, Hatred for None dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya polarisasi, konflik, dan berbagai bentuk diskriminasi yang masih terjadi di berbagai belahan dunia. Pandangan tersebut disampaikan Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan Republik Indonesia, Maria Ulfah Anshor, saat memberikan sambutan pada Jalsah Salanah UK 2026 di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris, Minggu (26/7/2026).

Dalam pidatonya, Maria Ulfah mengatakan dunia membutuhkan lebih banyak ruang yang menghadirkan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, serta keberanian untuk menolak kebencian dalam berbagai bentuknya.

Selama lebih dari dua dekade mendampingi perempuan, anak, dan kelompok-kelompok rentan di Indonesia, ia melihat bahwa kekerasan sering kali berawal dari prasangka dan hilangnya penghormatan terhadap sesama.

Karena itu, menurutnya, pesan yang selama ini diusung Jemaat Muslim Ahmadiyah bukan sekadar slogan, tetapi memiliki makna yang sangat relevan bagi kehidupan masyarakat modern.

Baca juga: Maria Ulfah Ajak Bangun Masyarakat yang Melindungi Anak dan Menghormati Perbedaan

“Love for All, Hatred for None, cinta untuk semua dan kebencian tidak untuk siapa pun, kini semakin relevan, baik bagi Indonesia maupun bagi seluruh dunia,” tuturnya.

Ia menilai masyarakat yang damai dibangun ketika setiap orang memperoleh ruang untuk hidup tanpa rasa takut, tanpa diskriminasi, serta dihormati martabatnya sebagai manusia.

Menurutnya, penghormatan terhadap perbedaan tidak berarti menghapus keyakinan masing-masing, tetapi menghadirkan kehidupan bersama yang dilandasi rasa saling menghormati.

Selama menjalin kerja sama dengan Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia dalam berbagai isu kemanusiaan, ia mengaku menyaksikan bagaimana pesan tersebut diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan sosial, pemberdayaan perempuan, serta komitmen untuk tetap mengedepankan pendekatan damai dalam menghadapi berbagai tantangan.

Baca juga: Maria Ulfah: Pemberdayaan Perempuan Dimulai dari Kesempatan Belajar

Baginya, dunia saat ini membutuhkan lebih banyak ruang dialog daripada ruang permusuhan. Nilai-nilai kemanusiaan, katanya, hanya akan tumbuh ketika masyarakat memilih membangun jembatan, bukan tembok yang memisahkan satu sama lain.

Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh peserta Jalsah Salanah UK 2026 untuk terus memperkuat budaya saling menghormati, memperluas kerja sama lintas masyarakat, serta menghadirkan kasih sayang sebagai dasar membangun masa depan yang lebih damai.

Di tengah dunia yang semakin terhubung sekaligus semakin mudah terpecah, pesan “Love for All, Hatred for None” menjadi pengingat bahwa perdamaian selalu dimulai dari cara manusia memperlakukan sesamanya.