Yogyakarta, Warta Ahmadiyah- Beragam latar belakang agama dan kepercayaan tidak menjadi sekat ketika orang-orang muda berkumpul di Kompleks Masjid Fadl Umar, Yogyakarta, Selasa 1 September 2026.
Mereka hadir dalam Training Psychological First Aid (PFA) Lintas Agama/Kepercayaan.
Dimana kegiatan tersebut menjadi sebuah ruang belajar bersama yang mempertemukan kepedulian terhadap kebebasan beragama dengan upaya membangun ketahanan dan kesehatan mental di tengah masyarakat.
Baca juga: Hari Demokrasi Internasional, Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia
Kegiatan yang berlangsung pada 1–2 September 2026, tersebut dibuka oleh Mln. Basyiruddin Suhartono yang merupakan Mubaligh Jemaat Muslim Ahmadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ia menekankan pentingnya solidaritas lintas agama sebagai kekuatan untuk merawat keberagaman sekaligus membangun kehidupan yang harmonis.
Memasuki sesi pertama, Kristina Viri yang merupakan Ketua Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia (YKPI), mengajak peserta melihat kebebasan beragama dan berkeyakinan dari perspektif hak asasi manusia.
Baca juga: Hari Demokrasi Internasional, Khalifah Tekankan Hak & Representasi Tanpa Diskriminasi
Diskusi tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi diarahkan pada kesadaran bahwa setiap orang memiliki hak untuk meyakini dan menjalankan agamanya serta memperoleh perlindungan atas hak tersebut.
Suasana semakin dinamis ketika Pendeta Augustina Elga Joan Sarapung dari Interfidei membawakan materi bertema ‘Mengenal Konflik Sosial’.
Peserta diajak memahami bagaimana konflik dapat muncul di tengah keberagaman, sekaligus belajar membangun komunikasi dan mengambil peran sebagai jembatan perdamaian.
Baca juga: Dua Perwakilan Warta Ahmadiyah Ikuti Forum Jurnalis Lintas Negara di Jakarta
Pengalaman nyata kemudian memperkaya diskusi. Ghulam yang merupakan anak muda Ahmadiyah, menyampaikan pandangannya mengenai kebebasan beragama.
Sementara itu, Odha, anak muda dari Kristen Semarang, berbagi kisah perjuangan komunitasnya dalam mendirikan rumah ibadah.
Berbagai pengalaman tersebut menjadikan hari pertama bukan sekadar forum pelatihan, melainkan ruang untuk saling mendengar, memahami, dan menumbuhkan empati.
Dari ruang perjumpaan lintas iman ini, para peserta belajar bahwa menciptakan ruang aman bagi semua membutuhkan keberanian untuk memahami pengalaman orang lain dan kepedulian untuk berdiri bersama.

Tidak ada Respon