Bogor, Warta Ahmadiyah — Sebanyak 25 pemuda lintas agama dan kepercayaan mengikuti Peace Stand Up Nusantara: Amplifying Interfaith Youth Voices in Digital Spaces di Sentul, Bogor, 15–17 Agustus 2026. Program ini menjadi ruang bagi peserta untuk belajar menyampaikan pengalaman dan narasi perdamaian di ruang digital.
Program yang diinisiasi Yayasan Generasi Literat Indonesia bersama Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) dan Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia (JAI) serta didukung Tifa Foundation tersebut secara khusus melibatkan anak muda dari agama dan kepercayaan yang masih jarang mendapat ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka di ruang publik.
Founder sekaligus Direktur Generasi Literat Indonesia, Milastri Muzakkar, mengatakan keterlibatan MLKI dan JAI sebagai mitra merupakan bagian dari upaya memberi ruang yang lebih representatif kepada kelompok yang selama ini menghadapi diskriminasi dan persekusi.
Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Sungai Apin Hadiri Upacara HUT ke-81 RI di Seberuang
“Kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak muda lintas agama dan kepercayaan agar mereka tahu bahwa mereka punya hak sebagai warga negara untuk bersuara, sekaligus memiliki keterampilan untuk menyampaikan cerita secara aman, nyaman, dan cerdas di ruang digital,” ujarnya.
Menurutnya, di ruang digital seseorang kerap membicarakan, memperdebatkan, bahkan menghakimi kelompok lain tanpa memberi kesempatan kepada kelompok tersebut untuk menceritakan dirinya sendiri. Karena itu, peserta didorong menyampaikan pengalaman dan identitas mereka secara langsung melalui pendekatan storytelling.
“Kami tidak ingin cerita tentang mereka terus diceritakan oleh orang lain. Mereka perlu tampil menceritakan dirinya, identitasnya, sehingga orang-orang lebih memahami apa yang mereka yakini,” katanya.
Baca juga: Toleransi Menjadi Bagian dari Semangat Kemerdekaan, Hak untuk Berbeda Perlu Dijaga
Selama kegiatan, peserta mengikuti pelatihan peace storytelling, dialog lintas iman, kebebasan beragama dan berkeyakinan, kewargaan digital, keamanan digital, public speaking, serta praktik menyusun dan menampilkan materi Peace Stand Up.
Sebagai tindak lanjut, peserta akan memproduksi dan mempublikasikan 25 video Peace Stand Up serta menyusun satu buku antologi yang mendokumentasikan pengalaman dan praktik baik mereka dalam membangun narasi perdamaian di ruang digital.
Milastri berharap peserta pulang dengan kepercayaan diri untuk menyampaikan cerita dan berkontribusi melalui konten digital yang positif. “Kami ingin mereka pulang dengan percaya diri, punya kemauan untuk berkontribusi, dan membuat konten-konten digital yang positif. Suara ini perlu disuarakan, karena narasi yang berkembang harus datang dari berbagai orang, bukan hanya dari orang-orang tertentu,” ujarnya.

Tidak ada Respon