Hampshire, Warta Ahmadiyah — Perdamaian, menurut Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, tidak hanya lahir dari dialog atau kebijakan, tetapi juga dari cara sebuah komunitas membangun kepedulian dan melayani sesama. Pandangan itu ia sampaikan setelah mengikuti Jalsah Salanah Internasional Muslim Ahmadiyah UK 2026 di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris, 24 – 27 Juli 2026.
Bagi Halili, pengalaman selama tiga hari di tengah lebih dari 51 ribu peserta dari 117 negara memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana nilai-nilai agama diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya melihat dengan mata kepala, dengan hati, dan dengan pikiran bahwa Jalsah Salanah UK 2026 memberikan saya pelajaran yang sangat berharga,” ujarnya.
Baca juga: Staf Khusus Kemenag RI saksikan nilai nilai Islam dalam Jalsah Salanah Internasional Muslim Ahmadiyah UK 2026
Yang paling membekas baginya bukanlah besarnya jumlah peserta atau megahnya penyelenggaraan, melainkan hubungan antarmanusia yang terbangun secara alami. Ia melihat para peserta saling membantu, melayani, dan membangun empati tanpa memandang asal negara maupun latar belakang.
“Empati satu dengan yang lain benar-benar terasa. Solidaritas itu terbangun dengan sangat kuat,” katanya.
Menurut Halili, kekuatan sebuah komunitas tidak hanya diukur dari bangunan fisik atau organisasi yang dimiliki. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun apa yang ia sebut sebagai infrastruktur kemanusiaan.
Baca juga: Hindari Prasangka , Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden cek fakta langsung kehidupan Muslim Ahmadiyah di Inggris
“Saya melihat Ahmadiyah menyiapkan bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur kemanusiaan dan infrastruktur sosial. Di situlah ajaran agama tumbuh menjadi praktik,” ungkapnya.
Istilah tersebut, menurut Halili, menggambarkan bagaimana nilai-nilai agama diwujudkan melalui pelayanan, kepedulian, dan rasa tanggung jawab kepada sesama. Baginya, inilah fondasi yang membuat sebuah komunitas mampu bertahan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Ia berharap semakin banyak ruang perjumpaan yang memungkinkan masyarakat saling mengenal secara langsung. Menurutnya, pengalaman nyata sering kali jauh lebih mampu mengikis prasangka dibanding sekadar perdebatan atau informasi yang diterima dari kejauhan.

Tidak ada Respon