Hampshire, Warta Ahmadiyah — Jalsah Salanah UK 2026 berakhir, tetapi pesan yang dibawanya tidak berhenti di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris. Selama tiga hari, puluhan ribu Muslim Ahmadi dari 117 negara dipertemukan bukan hanya dalam satu tempat, tetapi juga dalam satu tujuan: memperkuat hubungan dengan Allah dan mempererat persaudaraan antarmanusia. (26/7/2026)
Dalam pidato penutupnya, Khalifah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (aba) mengingatkan bahwa seluruh rangkaian Jalsah seharusnya melahirkan perubahan yang nyata ketika para peserta kembali ke rumah masing-masing. Menurut beliau, ketakwaan tidak cukup diwujudkan melalui ibadah lahiriah, tetapi harus tercermin dalam hati yang bersih, niat yang ikhlas, dan kehidupan yang hanya bergantung kepada Allah.
Menurut Beliau, tauhid bukan sekadar keyakinan yang diucapkan melalui kalimat La ilaha illallah, tetapi prinsip hidup yang menempatkan Allah di atas segala kepentingan dunia. Ketika hati benar-benar bertauhid, seseorang akan lebih mudah berlaku jujur, adil, rendah hati, serta menghormati sesama manusia.
Baca juga: Staf Ahli Presiden RI Melihat Langsung Jalsah Salanah UK, Sebut Pengalaman Tak Tergantikan
Nilai tersebut tampak nyata sepanjang penyelenggaraan Jalsah Salanah UK 2026. Sebanyak 51.181 peserta dari 117 negara berkumpul dengan bahasa, budaya, dan warna kulit yang berbeda, tetapi berdiri dalam satu saf, mengikuti satu imam, dan memperbarui satu bai’at kepada Allah melalui Khilafat. Perbedaan yang begitu besar tidak menjadi alasan untuk terpecah, melainkan menjadi bukti bahwa persaudaraan dapat tumbuh ketika dibangun di atas fondasi tauhid.
Selama tiga hari, para peserta mendengarkan pesan mengenai pendidikan, keluarga, pengorbanan, pemberdayaan perempuan, pelayanan kemanusiaan, hingga pentingnya membangun perdamaian. Seluruh tema tersebut memiliki satu benang merah: keimanan kepada Allah harus menghadirkan manfaat bagi kehidupan manusia.
Baca juga: Menjaga Hati, Jalan Menuju Ketakwaan
Karena itu, Jalsah Salanah tidak dimaksudkan sekadar menjadi pertemuan tahunan. Ia merupakan ruang muhasabah agar setiap peserta pulang dengan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, serta lebih mampu menghadirkan kedamaian di lingkungan masing-masing.
Di tengah dunia yang masih diwarnai konflik, polarisasi, dan berbagai bentuk kebencian, Jalsah Salanah UK 2026 kembali menunjukkan bahwa persatuan tidak dibangun dengan menyeragamkan manusia. Persatuan lahir ketika manusia memiliki tujuan yang sama, yaitu mengabdi kepada Allah, menghormati sesama, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Dari Hampshire, pesan itu kemudian dibawa pulang ke lebih dari seratus negara: bahwa tauhid bukan hanya menghubungkan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga menjadi fondasi yang mempersatukan manusia dengan manusia lainnya.

Tidak ada Respon