Staf Ahli Presiden RI Melihat Langsung Jalsah Salanah UK, Sebut Pengalaman Tak Tergantikan

Munadi AhmadMancanegara2 min
Ahmad Fuad Fanani, Tenaga Ahli Utama Kedeputian Kantor Staf Presiden RI, menghadiri Jalsah Salanah UK 2026 untuk melihat langsung.
A-AA+A++

Hampshire, Warta Ahmadiyah — Mengamati langsung sering kali memberi pemahaman yang berbeda dibanding hanya mendengar dari cerita orang lain. Keyakinan itulah yang mendorong Tenaga Ahli Utama Kedeputian Kantor Staf Presiden Republik Indonesia sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, Ahmad Fuad Fanani, menghadiri Jalsah Salanah UK 2026 di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris. (27/7/2026).

Baginya, kehadiran di Jalsah Salanah bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan bagian dari perjalanan panjang untuk memahami Ahmadiyah secara langsung melalui pengalaman, dialog, dan perjumpaan.

Ia menceritakan bahwa perkenalannya dengan Jemaat Ahmadiyah telah dimulai sejak masa kuliah pada awal 2000-an. Namun pemahaman yang lebih mendalam berkembang ketika pada 2012 ia terlibat dalam penerbitan jurnal akademik yang mengangkat isu hak-hak kelompok minoritas, termasuk Ahmadiyah di Indonesia.

Baca juga: Menjaga Hati, Jalan Menuju Ketakwaan

Menurutnya, sejak saat itu hubungan dengan berbagai tokoh Jemaat terus terjalin melalui forum akademik, diskusi, hingga berbagai kegiatan lintas komunitas di Indonesia maupun luar negeri.

Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta tersebut mengaku sebelumnya pernah menghadiri Jalsah Salanah di Kanada dan sempat merencanakan mengikuti Jalsah Salanah di Qadian, India. Namun karena baru mendapat amanah di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, rencana tersebut tertunda hingga akhirnya ia dapat menghadiri Jalsah Salanah UK tahun ini.

“Saya ingin melihat langsung, mengenal lebih dekat, dan memperoleh pengalaman sendiri mengenai Jalsah Salanah serta kehidupan Jemaat Ahmadiyah,” ujarnya.

Baca juga: Rumah Belajar Namorambe Ajak Berani Bermimpi Lewat Kegiatan Edukatif di Momen Hari Anak Nasional

Menurut Fuad Fanani, pengalaman langsung memiliki nilai yang tidak dapat digantikan oleh informasi yang diperoleh dari pihak lain. Dengan hadir di tengah puluhan ribu peserta dari berbagai negara, ia dapat menyaksikan bagaimana kehidupan Jemaat berlangsung dalam suasana persaudaraan internasional.

Tenaga Ahli Utama Kantor Staff Presiden RI itu juga mengingat kembali keterlibatannya sebagai salah satu penulis dalam buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan. Dalam tulisannya, ia menegaskan bahwa penilaian terhadap keyakinan seseorang bukanlah wewenang manusia.

“Yang berhak menentukan benar atau salahnya keyakinan seseorang adalah Tuhan, bukan manusia. Karena itu, kita perlu membangun kerja sama, hubungan baik, dan saling menghormati sebagai sesama umat manusia,” tambahnya.