London, Warta Ahmadiyah — Jika Masjid Fazl menjadi penanda awal hadirnya Islam di London pada awal abad ke-20, maka Masjid Baitul Futuh mencerminkan bagaimana dakwah Islam terus berkembang dan mengakar di Inggris hingga memasuki abad ke-21. Berdiri di kawasan Morden, London Selatan, masjid ini menjadi salah satu pusat kegiatan Islam terbesar di Eropa Barat sekaligus simbol tumbuhnya dakwah yang mengedepankan pelayanan, dialog, dan persaudaraan.
Gagasan pembangunan Baitul Futuh lahir seiring semakin berkembangnya komunitas Muslim Ahmadiyah di Inggris. Pada 1996, Jemaat Muslim Ahmadiyah membeli lahan di kawasan Morden sebagai lokasi pembangunan kompleks masjid yang lebih luas untuk melayani kebutuhan ibadah dan aktivitas kemasyarakatan. Tiga tahun kemudian, peletakan batu pertama dilakukan oleh Khalifatul Masih IV, Hazrat Mirza Tahir Ahmad, sebelum akhirnya masjid diresmikan pada 2003 oleh Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad.
Seperti halnya Masjid Fazl, pembangunan Baitul Futuh sepenuhnya didukung melalui pengorbanan dan donasi sukarela anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah dari berbagai negara. Semangat gotong royong tersebut mencerminkan keyakinan bahwa rumah ibadah dibangun bukan hanya sebagai tempat salat, tetapi juga sebagai pusat pengabdian kepada masyarakat.
Baca juga: Masjid Fazl, Jejak Awal Islam Berakar di London
Kini, Baitul Futuh tidak hanya dikenal karena ukuran bangunannya, tetapi juga karena perannya sebagai ruang terbuka bagi masyarakat. Beragam kegiatan rutin diselenggarakan di kompleks masjid ini, mulai dari dialog lintas agama, kunjungan sekolah dan universitas, donor darah, kegiatan kemanusiaan, hingga simposium perdamaian yang menghadirkan tokoh agama, akademisi, diplomat, dan pemimpin masyarakat dari berbagai negara.
Masjid ini juga menjadi salah satu pusat penyelenggaraan berbagai kegiatan internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah di Inggris. Setiap tahun, ribuan tamu dari berbagai belahan dunia mengunjungi Baitul Futuh untuk mengikuti kegiatan keagamaan maupun memperluas dialog mengenai kehidupan masyarakat yang damai dan inklusif.
Menjelang Jalsah Salanah UK 2026, Baitul Futuh kembali menjadi salah satu tujuan kunjungan rombongan Indonesia yang terdiri atas tokoh akademisi, organisasi masyarakat, dan pemimpin lintas agama. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana sebuah masjid berfungsi tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai ruang pelayanan, pendidikan, dan perjumpaan antarmasyarakat.
Baca juga: Dari Ladang Pertanian Menjadi Simbol Persatuan Umat, Sejarah Hadiqatul Mahdi
Lebih dari dua dekade sejak diresmikan, Baitul Futuh terus menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Inggris tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah umat atau megahnya bangunan, tetapi dari kemampuannya membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat melalui dialog, kepedulian sosial, dan semangat persaudaraan. Dari London, masjid ini menjadi salah satu wajah Islam yang terus menghadirkan nilai-nilai perdamaian bagi masyarakat global.

Tidak ada Respon