Jakarta, Warta Ahmadiyah — Berawal dari sebuah hamparan ladang pertanian di pedesaan Hampshire, Inggris, Hadiqatul Mahdi kini dikenal sebagai salah satu pusat pertemuan umat Islam berskala internasional. Setiap tahun, kawasan yang tenang itu berubah menjadi sebuah kota sementara yang menyambut puluhan ribu peserta Jalsah Salanah UK dari lebih dari 100 negara, menghadirkan ruang ibadah, persaudaraan, dan dialog lintas bangsa.
Sebelum Hadiqatul Mahdi digunakan, Jalsah Salanah Inggris selama bertahun-tahun diselenggarakan di Islamabad, Tilford. Namun seiring meningkatnya jumlah peserta dari berbagai belahan dunia, lokasi tersebut tidak lagi mampu menampung kebutuhan Jalsah. Jemaat Muslim Ahmadiyah kemudian mulai mencari kawasan baru yang dapat menjadi rumah permanen bagi penyelenggaraan Jalsah Salanah di Inggris.
Pada 2005, Jemaat Muslim Ahmadiyah membeli kawasan pertanian seluas lebih dari 84 hektare di Oaklands Farm, East Worldham, Hampshire. Setelah mendapat persetujuan Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, kawasan tersebut diberi nama Hadiqatul Mahdi, yang berarti Taman Al-Mahdi.
Baca juga: JAI Ajak Tokoh Lintas Organisasi Hadiri Jalsah Salanah UK 2026, Perkuat Dialog dan Saling Pengertian
Membangun Hadiqatul Mahdi bukanlah pekerjaan sederhana. Lahan pertanian tersebut harus dipersiapkan dengan berbagai infrastruktur dasar, mulai dari sistem drainase, jaringan listrik, suplai air, hingga akses kendaraan. Jemaat juga melalui proses perizinan yang panjang bersama pemerintah daerah sebelum akhirnya kawasan tersebut dapat digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan Jalsah Salanah.
Tahun 2006 menjadi tonggak penting ketika Hadiqatul Mahdi untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Jalsah Salanah UK. Ribuan peserta dari puluhan negara berkumpul dalam penyelenggaraan perdana tersebut, menandai dimulainya babak baru sejarah Jalsah Salanah di Inggris.
Sejak itu, Hadiqatul Mahdi terus berkembang. Menjelang Jalsah setiap tahunnya, ribuan relawan membangun ratusan tenda, ruang sidang, pusat kesehatan, dapur umum, jaringan utilitas, area parkir, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya. Selama beberapa hari, kawasan tersebut berubah menjadi sebuah kota yang mampu melayani puluhan ribu orang secara mandiri.
Baca juga: Dari Pertemuan Kecil Menjadi Simbol Persatuan Umat
Yang menarik, seluruh bangunan tersebut bersifat sementara. Setelah Jalsah berakhir, seluruh fasilitas dibongkar dan kawasan kembali menjadi lahan hijau sebagaimana semula. Siklus pembangunan dan pembongkaran itu terus berlangsung setiap tahun sebagai bagian dari tradisi pelayanan sukarela yang menjadi ciri khas penyelenggaraan Jalsah Salanah.

Tidak ada Respon