Jakarta, Warta Ahmadiyah — Di tengah kehidupan modern yang sering mengukur keberhasilan dari banyaknya harta yang dimiliki, Jemaat Muslim Ahmadiyah memandang pengorbanan justru sebagai salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagi Jemaat Ahmadiyah, harta bukan sekadar aset pribadi, melainkan amanah yang memiliki dimensi ibadah dan kemaslahatan sosial.
Prinsip tersebut kembali ditegaskan Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, dalam khutbah Jumatnya yang menekankan bahwa pengorbanan sejati dilakukan semata-mata demi meraih keridaan Allah, tanpa mengharapkan balasan ataupun pujian dari manusia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharap rida Allah. Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”
(QS. Al-Insān [76]: 9)
Ayat tersebut menjadi landasan bahwa setiap bentuk pengorbanan seorang mukmin seharusnya lahir dari keikhlasan, bukan demi popularitas, penghargaan, ataupun keuntungan pribadi.
Baca juga: Lajnah Imaillah Tanjung Jalin Rabtah dengan Penghulu Desa Sei Meranti Darussalam
Dalam khutbah nya, Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan bahwa nilai sebuah pengorbanan tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya nominal yang diberikan, melainkan oleh ketulusan hati serta keyakinan kepada Allah yang melatarbelakanginya. Ketika pengorbanan dilakukan dengan niat yang benar, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh orang lain, tetapi juga membentuk karakter, keimanan, dan akhlak pemberinya.
Semangat tersebut telah menjadi bagian dari tradisi Jemaat Ahmadiyah sejak didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Jemaat Ahmadiyah, pada 1889. Beliau mengajarkan bahwa kemajuan agama memerlukan tiga bentuk pengorbanan yang berjalan seiring, yakni pengorbanan waktu, tenaga, dan harta.
Pandangan tersebut berakar pada firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 92 yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan mencapai kebajikan yang sempurna sebelum menginfakkan sebagian dari apa yang paling dicintainya. Karena itu, pengorbanan dipahami sebagai proses pembinaan spiritual, bukan sekadar kewajiban finansial.
Baca juga: Hak Perempuan dalam Islam Dibangun di Atas Keadilan dan Martabat, Bukan Sekadar Kebebasan
Dari prinsip inilah lahir sistem candah, yaitu mekanisme pengorbanan harta yang dijalankan secara sukarela dan terorganisasi di lingkungan Jemaat Ahmadiyah. Berbagai program seperti Tahrik Jadid, Waqf Jadid, Al-Wasiyyat, maupun candah-candah lainnya dikembangkan untuk mendukung pendidikan, dakwah, pembangunan masjid, penerbitan literatur Islam, pembinaan generasi muda, hingga berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan di berbagai negara.
Berbeda dengan anggapan bahwa pengorbanan hanya berkaitan dengan pembangunan organisasi, sistem candah justru dibangun di atas filosofi bahwa setiap harta yang diinfakkan merupakan sarana mendidik jiwa agar lebih ikhlas, disiplin, dan peduli terhadap sesama. Nilai spiritual inilah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi di lingkungan Jemaat Ahmadiyah.

Tidak ada Respon