Riau – Pengurus Jemaat Ahmadiyah Riau mendapat undangan untuk menghadiri acara buka bersama dan diskusi yang diinisiasi oleh ISAIS-UINSUSKA Riau dan AIPI.
Acara yang mengangkat tema, ‘Puasa, Negara dan Tradisi di Indonesia, Menemukan Makna di Tengah Keberagaman’, pada kesempatan yang bertepatan dengan momen Ramadhan tanggal 20 Maret 2025 ini, dilaksanakan di markas pusat DPP PPMJR, Panam, Pekanbaru.
Sebagai perwakilan dari JAI Riau 1, hadir Mlln Muslim Permadi Barus (Mubda), Maola Idrus (Ketua Cabang Pekanbaru), bersama seorang anggota khuddam dan dua orang perwakilan Lajnah Imaillah Pekanbaru.
Turut hadir juga para perwakilan tokoh lintas agama, dosen serta mahasiswa/i UNRI dan UIN Suska Riau, juga beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Pekanbaru.
Sesampainya di lokasi acara, perwakilan Jemaat Ahmadiyah Daerah Riau disambut hangat oleh Direktur ISAIS-UIN Suska Riau Bapak Bambang Hermanto berserta jajaran Panitia dan juga tokoh lintas agama yang telah hadir di lantai 2 markas Pusat PPMJR.
Penyampaian materi dari beberapa Narasumber sejatinya dimulai pada pukul 16.00 wib, namun dikarenakan beberapa kendala teknis acara baru dimulai pada pukul 16.55 wib, namun tidak menyurutkan semangat para peserta diskusi untuk mengikuti rangkaian acara.
Sebagai salah satu pembicara yaitu Ketua PWNU Riau, KH. Abdul Halim Mahali, menyampaikan makna dan esensi puasa sesuai tuntutan Islam, dimana puasa tidak hanya bertujuan untuk lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, namun juga harus dapat menjadi perisai bagi hawa nafsu untuk tidak melakukan keburukan pada sesama mahluk Tuhan, berpuasa tidak hanya sebatas menahan makan dan minum, tapi juga menahan diri dari mengambil hak orang lain dan membatasi diri agar tidak merugikan orang lain.
Hal ini diamini oleh para pembicara lainnya yang merupakan perwakilan dari beberapa tokoh lintas agama di provinsi Riau, di antaranya, Agung Begawan Prabu sekertaris DMD MLKI mewakili aliran kepercayaan, Mustakim sebagai tokoh agama Hindu, Rudolf Piter sebagai tokoh agama Kristen, Manik sebagai ketua Parmalin Pekanbaru, dan Olliya Jastina sebagai perwakilan dari BAHAI.
Para pembicara juga menyampaikan makna serta pelaksanaan puasa yang juga dijalankan sesuai keyakinan agama mereka masing-masing, dimana secara keseluruhan inti dari puasa menurut para narasumber memiliki makna yang universal sebagai latihan spiritual yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai kebaikan dengan tujuan memperbaiki rohani untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan.
Menjelang waktu berbuka puasa, acara dijeda dengan sesi foto dan berbuka bersama, sebelum dilanjutkan kembali dengan diskusi dan tanya jawab. Namun dikarenakan agenda Tarawih yang sudah terjadwal, perwakilan dari Pihak JAI Daerah Riau 01 harus lebih dahulu berpamitan kepada pihak penyelenggara.
Salam perpisahan dan ucapan terimakasih dari segenap panitia dan para peserta diskusi mengiringi kepulangan kami. Seluruh peserta berharap kegiatan seperti ini akan terus berlanjut untuk memupuk kebersamaan, kedamaian dan toleransi antar sesama umat beragama di Provinsi Riau.
Lebih luas lagi, perserta berharap agar negara hadir dalam mengakomodasi dan mendukung tradisi puasa berbagai agama di Indonesia. Karena selama ini, kebijakan negara lebih banyak berorientasi pada puasa Ramadan, dengan berbagai kebijakan seperti libur nasional, penyesuaian jam kerja, dan regulasi terkait operasional restoran.
Seluruh peserta sangat mendukung agar diskusi seperti ini terus dilakukan untuk membuka ruang dialog yang lebih luas dalam membangun Indonesia yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman agama serta tradisi yang ada. Semoga acara ini menjadi momentum penting untuk mendorong kebijakan yang lebih adil dan merata dalam mendukung praktik keagamaan semua kelompok di Indonesia. *
Kontributor: Aisyah Begum
Editor: Devi Savitri