Kuningan- Para pendeta dan pengurus GKP Klasis Cirebon yang meliputi 8 jemaat GKP mengunjungi Jemaat Ahmadiyah Manislor, Kuningan, Selasa (06/03).
Pendeta Yayan selaku pimpinan rombongan menyampaikan tujuan kunjungan ke JAI Manislor.
“Selain silaturahmi dan menambah keakraban antara GKP dengan JAI Manislor juga kunjungan ini dalam rangka mengenal lebih dekat tentang Jemaat Ahmadiyah” kata Pdt. Yayan.
Ketua Jemaat Ahmadiyah Cabang Manislor, Nurhalim menyampaikan sejarah masuk dan berkembangnya Ahmadiyah sampai ke manislor dan meluruskan kesalah fahaman tentang Ahmadiyah yang ada di masyarakat.
“Ahmadiyah itu syahadatnya sama, berkitab sucikan Al-Quran dan bernabikan Muhammad SAW (Khattamun Nabiyyin), hanya sudah mengimani kedatangan Imam Mahdi dan Al Masih Yang dijanjikan dalam wujud Hz Mirza Ghulam Ahmad, pendiri jemaat Ahmadiyah”, jelas Nurhalim
Sementara itu Mubaligh Ahmadiyah Manislor, Mln. Irfan menjelaskan beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para peserta antara lain perbedaan Ahmadiyah qadian dan lahore, peranan kaum wanita di Ahmadiyah, dan nama-nama khalifah yang ada di Jemaat Ahmadiyah.
Mln. Irfan merasa sangat bersyukur dan berterima kasih sudah mau berkunjung ke JAI Manislor untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada di masyarakat termasuk di kalangan umat kristiani sendiri.
Menurut beberapa pendeta kadang ada saja umat yang menanyakan tentang Ahmadiyah apa perbedaannya dengan yang lain sehingga Ahmadiyah sering diintimidasi, dan jadi sasaran intoleransi.
“Tentunya jika ingin tahu tentang Ahmadiyah, maka sangat tepat dengan datang langsung ke sumbernya”, terang Mln. Irfan.
Mln. Irfan berharap silaturahmi tidak berhenti pada pertemuan ini, tapi ada pertemuan-pertemuan selanjutnya dan bisa diteruskan dengan kerjasama dalam bidang sosial dan kemanusiaan seperti pengobatan gratis homeopathy”, harapnya.
Para pendeta dan pengurus yang terdiri dari GKP Cigugur, GKP Cideres, Kadipaten, GKP Majalengka, GKP Haur Geulis Indramayu mengaku takjub dengan penerimaan dan penjamuan dari JAI Manislor.
“Saya tidak menyangka akan di jamu seperti ini, ini menepis anggapan bahwa Islam identik dengan kekerasan dan teroris”, ucap salah satu peserta rombongan.
Di akhir pertemuan, kedua belah pihak saling memberi souvenir. Dari GKP memberikan dua buah Al-Kiitab dalam bahasa Sunda. Sedang dari JAI manislor memberikan 12 paket buku dan VCD antara lain : Tuhan di abad 21, krisis dunia dan jalan menuju perdamain, dan Almasih di Hindustan.
Acara ditutup dengan doa sesuai keyakinan masing-masing dan photo bersama di depan mesjid An Nur.