Bogor, Warta Ahmadiyah — Sadr Lajnah Imaillah Indonesia, Siti Aisyah Bakrie, mengenang Almarhumah Chadidjah Siddiqah Haris Setiarso sebagai sosok yang memiliki kecintaan kuat terhadap nizam Jemaat. Hal tersebut terlihat dari sikapnya dalam menjalankan berbagai amanah pengkhidmatan di Jemaat. Minggu, (06/09/2026)
“Saya mengenal beliau dengan sangat baik, baik secara pribadi maupun organisasi. Terutama saya melihat beliau atau almarhumah adalah sosok yang sangat mencintai nizam dalam Jemaat ini,” ujarnya.
Menurutnya, kecintaan terhadap nizam Jemaat tersebut tercermin dalam cara Beliau menjalankan tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya. Baginya, setiap pengkhidmatan perlu dijalankan dengan keikhlasan dan kejujuran.
“Apa pun yang kita hadapi di dalam Jemaat harus dihadapi dengan ikhlas dan dalam mengerjakan tugas-tugas Jemaat, selain harus ikhlas juga harus jujur, senang dan semangat,” ungkapnya.
Baca juga: Ijtima Mubayyin Baru Wilayah Diikuti 106 Peserta di Sukabumi
Prinsip tersebut menjadi salah satu hal yang menonjol dalam diri Almarhumah selama menjalankan pengkhidmatan. Ia melihat Ibu Chadidjah sebagai pribadi yang tetap menjalankan tugas dengan sikap positif dalam berbagai keadaan.
“Apabila dalam mengerjakan tugas Jemaat dengan ikhlas dan jujur, senang dan semangat, maka segalanya akan menjadi lebih mudah,” tuturnya.
Ia juga menyoroti sikap dalam memegang nizam Khilafat. Dalam menjalankan amanah, Almh. Chadidjah disebut tidak menjadikan keputusan dalam Jemaat sebagai sesuatu yang diperdebatkan, melainkan langsung melaksanakannya.
Baca juga: Jalsah Salanah Sumatera Bagian Utara Satukan Peserta di Tanjung Medan
“Kalau saya lihat bagaimana pengkhidmatan beliau, yang menonjol dari beliau adalah kecintaan terhadap nizam Jemaat. Beliau seseorang yang sangat memegang teguh nizam Khilafat dan sangat mencintai Jemaat ini,” tambahnya.
Sadr Lajna Imaillah itu menyebut sikap tersebut juga terlihat dari prinsip sami’na wa atha’na yang diterapkan Almh. Chadidjah. Ia menggambarkan sebagai sosok yang menerima keputusan dalam Jemaat dan menjalankannya tanpa mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut.
“Sami’na wa atha’na terhadap apa yang diputuskan dalam Jemaat. Beliau tidak pernah bertanya, tidak pernah mempertanyakan mengapa, tetapi langsung melaksanakan dan kecintaannya kepada nizam Khilafat sangat luar biasa,” tutup Sadr Lajna Imaillah.

Tidak ada Respon