Tokoh Muhammadiyah Bagikan Pengalaman Langsung Hadiri Kegiatan JAI

Munadi AhmadDaerah2 min
A-AA+A++

Tasikmalaya, Warta Ahmadiyah — Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Legoso Tangerang Selatan, Ahsan Jamet Hamidi, menghadiri langsung Jalsa Salanah Jemaat Muslim Ahmadiyah di Desa Tenjowaringin, Kampung Wanasigra, Tasikmalaya, pada 16 hingga 18 Oktober 2026. Kehadirannya di acara tersebut bertujuan untuk melihat dan mengikuti jalannya kegiatan keagamaan tahunan itu secara utuh.

Selama mengikuti rangkaian acara, Ahsan mengamati bahwa tata cara salat dan materi pengajian JAI tidak jauh berbeda dari organisasi Islam pada umumnya. Ia menyoroti fokus ceramah yang murni mengajarkan ketakwaan, amal saleh, dan kerukunan tanpa adanya ajakan untuk menyerang kelompok lain.

“Dari pengalaman itu, saya menyimpulkan bahwa kegiatan ini sangat lumrah, biasa saja, rileks, dan santai. Tidak jauh berbeda dari pengajian yang rutin diselenggarakan oleh organisasi keagamaan lainnya,” ujar Ahsan membagikan kesannya.

Baca juga: Buktikan Agama Jadi Solusi, Tokoh SPP Puji Gerakan Kemanusiaan JAI

Selain aspek peribadatan, tokoh Muhammadiyah ini juga sangat mengagumi keramahan panitia serta tingginya standar kebersihan di lokasi acara. Ia menilai tata kelola sampah dan fasilitas toilet yang sangat bersih merupakan wujud nyata pengamalan iman oleh anggota Jemaat.

Melihat kedamaian dalam kegiatan tersebut, Ahsan menyoroti tantangan keamanan yang kerap dihadapi oleh kawan-kawan Ahmadiyah. Ia membandingkan hal ini dengan kemewahan rasa aman yang dengan leluasa dinikmati oleh organisasi keagamaan arus utama saat menyelenggarakan pengajian.

Baca juga: Ketua FBTI Sebut Keterbukaan JAI Runtuhkan Prasangka dan Inspirasi Keberagaman

“Mengapa kegiatan keagamaan yang begitu lumrah masih harus diselenggarakan di bawah bayang-bayang ancaman? Ini menyangkut hak setiap warga negara untuk menjalankan ibadah dengan aman,” tegasnya merujuk pada jaminan konstitusi Indonesia.

Ahsan menegaskan bahwa kunjungan ini semakin memantapkan komitmennya untuk menghormati perbedaan keyakinan tanpa harus meninggalkan komunitasnya sendiri. Pengalaman langsung ini membuktikan bahwa prasangka buruk dapat runtuh ketika masyarakat mau saling mengenal dan bersilaturahmi.

“Pelajaran penting dari kunjungan ke Jalsah Salanah Ahmadiyah: tetap teguh dalam keyakinan sendiri, tanpa kehilangan rasa hormat kepada mereka yang berbeda,” pungkasnya mengapresiasi JAI.