KPA Youth Camp 2026 Dorong Kedekatan Generasi Muda dengan Jemaat

Munadi AhmadNasional2 min
Mubarak Ahmad Kamil berharap KPA Youth Camp 2026 memperkuat kedekatan generasi muda dengan Tuhan, Jemaat, Khilafat, dan sesama Ahmadi.
A-AA+A++

Subang, Warta Ahmadiyah — Sekretaris Tarbiyat Pengurus Besar Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Mubarak Ahmad Kamil, berharap rangkaian KPA Youth Camp 2026 memperkuat kedekatan peserta dengan Tuhan, Jemaat, Khilafat, serta sesama anggota Jemaat.

Harapan tersebut disampaikan Mubarak saat KPA Youth Camp 2026 di Subang, Jawa Barat, 21–23 Agustus 2026. Kegiatan bertema “Eksplorasi Keajaiban Ilahi dan Potensi Diri Generasi Emas Ahmadi” diikuti sekitar 1.500 peserta usia SMP hingga SMA.

Ia mengatakan peserta perlu memahami apa yang menjadi keinginan Tuhan dalam kehidupan mereka. Menurutnya, meskipun masih berada pada usia SMP dan SMA, generasi muda perlu mulai mengenal dan memahami tujuan kehidupan berdasarkan ajaran agama.

Baca juga: KPA Youth Camp 2026 Jadi Wadah Regenerasi dan Kaderisasi Generasi Muda Ahmadi

Selain kedekatan dengan Tuhan, ia berharap peserta memiliki ikatan yang lebih kuat dengan Jemaat dan Khilafat. Menurutnya, generasi muda perlu menyadari bahwa Jemaat hadir bersama mereka dan relevan dengan proses tumbuh kembang mereka.

Sekertaris Tarbiyat PB JAI itu juga menekankan pentingnya membangun hubungan antarsesama Ahmadi. Ia berharap peserta memiliki teman yang dapat menjadi bagian dari kehidupan mereka, sehingga pengalaman bersama selama KPA tetap dikenang ketika mereka beranjak dewasa.

“Di kemudian hari mereka ingat bahwa mereka pernah bersama-sama di KPA. Itu harapan kami,” ujarnya.

Ke depan, bidang Tarbiyat PB JAI tengah melakukan transformasi kaderisasi dengan mempertimbangkan perkembangan zaman dan kebutuhan generasi muda. Mubarak mengatakan riset dan pembaruan pengetahuan diperlukan agar pendekatan yang digunakan tetap relevan bagi peserta.

Baca juga: Pendidikan Agama dan Ruang Dialog Penting bagi Generasi Muda

Menurutnya, penyesuaian dilakukan pada metode pembelajaran dan penyampaian informasi, bukan pada nilai yang diajarkan. Nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, ketaatan, dan kekuatan dalam beribadah tetap menjadi bagian yang tidak berubah.

“Yang kita sesuaikan adalah metodologinya, proses pembelajarannya, proses penyampaian informasinya. Itu yang kita sesuaikan,” katanya.

Tambahnya, perkembangan metodologi tersebut diarahkan untuk menyesuaikan proses kaderisasi dengan kebutuhan generasi muda. Sementara nilai-nilai keimanan dan ajaran Islam yang menjadi dasar pembinaan tetap dipertahankan.