Pengalaman Jalsah Salanah UK, Direktur SETARA Institute Soroti Kekuatan Kemanusiaan

Munadi AhmadMancanegara2 min
Ahmad Fuad Fanani, Halili Hasan dan Farid F Saenong berfoto bersama di depan Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, Inggris.
A-AA+A++

Hampshire, Warta Ahmadiyah — Mengikuti langsung sebuah pertemuan sering kali memberikan pemahaman yang berbeda dibanding hanya mendengar dari luar. Pengalaman itulah yang dirasakan Direktur Eksekutif SETARA Institute, Halili Hasan, setelah menghadiri Jalsah Salanah UK 2026 di Hadeeqatul Mahdi, Hampshire, Inggris.

Menurut Halili, selama dua hari mengikuti rangkaian kegiatan, ia melihat secara langsung bagaimana nilai-nilai agama diterjemahkan ke dalam kehidupan bersama melalui semangat persaudaraan, pelayanan, dan kepedulian antarsesama.

“Saya melihat dengan mata kepala, dengan hati, dan dengan pikiran bahwa Jalsah Salanah UK 2026 memberikan pelajaran yang sangat berharga,” ujarnya.

Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Cisalada Kumpulkan 34 Kantong Darah dalam Aksi Donor

Direktur Eksekutif SETARA Institute tersebut menilai salah satu kesan terkuat yang ia rasakan adalah kokohnya solidaritas yang terbangun di antara para peserta yang datang dari berbagai negara.

Menurutnya, hubungan antarpeserta tidak hanya terlihat dalam aktivitas ibadah, tetapi juga dalam kepedulian sehari-hari, ketika mereka saling membantu, melayani, dan membangun empati tanpa memandang asal-usul maupun latar belakang.

“Saya menemukan bahwa empati satu dengan yang lain luar biasa terbangun. Solidaritas itu benar-benar terasa,” katanya.

Baca juga: Lajnah Imaillah Tasikmalaya Tunjukkan Kiprah KSU Kusumawangi Bangun Ekonomi Keluarga

Selain melihat kehidupan internal Jemaat, Halili juga menyoroti apa yang ia sebut sebagai pembangunan infrastruktur kemanusiaan. Menurutnya, kekuatan sebuah komunitas tidak hanya diukur dari bangunan fisik yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan membangun sistem sosial yang mendorong pelayanan kepada sesama.

“Saya melihat Ahmadiyah menyiapkan begitu banyak infrastruktur, bukan hanya secara fisik, tetapi juga infrastruktur kemanusiaan dan infrastruktur sosial. Di situlah ajaran agama tumbuh menjadi praktik,” tambahnya.

Ia menilai pengalaman tersebut memberikan refleksi penting bahwa nilai-nilai agama seharusnya tidak berhenti pada ajaran yang disampaikan dari mimbar, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.