Surakarta, Warta Ahmadiyah- Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta dan Solo Raya mendorong penguatan perlindungan anak sekaligus menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dari berbagai bentuk kekerasan dan intoleransi.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyelenggarakan Dialog Penyelenggaraan Pelindungan Anak pada Rabu, 1 Juli 2026, di Masjid Baitul Karim, Surakarta.
Dialog ini merupakan tindak lanjut atas informasi dari Serikat Jurnalisme untuk Keberagamaan (Sejuk) mengenai pembubaran kegiatan perkemahan Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Karanganyar, pada 5 Juni 2026, serta penolakan kegiatan Sekolah Minggu GKJ Nusukan Pepanthan Banyuanyar.
Baca juga: Jalsah Salanah 2026 Serentak di Tujuh Wilayah, Jemaat Ahmadiyah Teguhkan Akhlak dan Kemajuan Rohani
Dimana kedua peristiwa itu dinilai berdampak pada kondisi psikologis anak-anak.
Kegiatan ini bertujuan memperkuat sinergi berbagai pihak dalam pemenuhan dan perlindungan hak anak.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia hadir melalui perwakilan PPMKAI, Panitia Perkemahan Pemuda Ahmadiyah, JAI Solo Raya, dan JAI Yogyakarta.
Dalam agendda ini hadir juga sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti GKJ Banyuanyar, Yayasan Keadilan dan Perdamaian Indonesia.
Baca juga: Pererat Silaturahmi, Jemaat Ahmadiyah Yogyakarta Kunjungi Polsek Gondokusuman
Diwakili Kristina Viri, komunitas lintas iman Gusdurian, organisasi profesi jurnalis, dan pegiat hak anak.
Dalam dialog, sejumlah perwakilan Jemaat Ahmadiyah menyampaikan kesaksian mengenai dampak psikologis yang dialami anak-anak maupun orang dewasa akibat pembubaran kegiatan dan berbagai bentuk persekusi
Mln. Ali Muksin menjelaskan trauma yang dirasakan anggota JAI Solo Raya pasca-pembubaran perkemahan di Karanganyar.
Baca juga: Wisata Tarbiyat Jemaat Ahmadiyah Gondrong, Tumbuhkan Kecintaan kepada Allah SWT
Mln. Basyiruddin Suhartono berbagi pengalaman pengusiran saat bertugas di Papua dan menegaskan bahwa rasa cemas akibat intoleransi juga dirasakan kalangan dewasa.
Perwakilan PPMKAI, Mubarik, menuturkan bahwa pembubaran kegiatan Ahmadiyah kerap meninggalkan trauma berkepanjangan pada anak-anak, seraya mengenang peristiwa pembubaran perkemahan di Pangandaran tahun 2006 yang berujung pada kecelakaan fatal salah satu anggota keluarganya.

Tidak ada Respon