Yogyakarta, Warta Ahmadiyah- Kegiatan Sahur Keliling 2026 yang digagas tokoh kebangsaan Sinta Nuriyah Wahid berlangsung khidmat di Gereja Katolik Kristus Raja pada Senin 2 Maret 2026 dini hari.
Agenda tahunan ini bertujuan mempererat persaudaraan lintas iman serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah dinamika sosial dan kebangsaan.
Program ini diinisiasi Yayasan Puan Amal Hayati yang dipimpin Sinta Nuriyah dan telah diselenggarakan sejak tahun 2000.
Baca juga: Sinergi Generasi dalam Malam Anshar dan Khuddam Connect Jemaat Ahmadiyah Wanasigra
Setiap tahun, kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat dan lembaga lintas agama. Salah satu mitra yang konsisten terlibat sejak 2007 adalah Seknas Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI).
Acara dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dengan registrasi peserta dan tamu undangan, diiringi lagu-lagu rohani dan kebangsaan yang menciptakan suasana reflektif.
Rangkaian kegiatan turut diisi lantunan nazm (syair) oleh Sitara Syifa Qaisharah dari Nashirat Ahmadiyah, memperkaya nuansa spiritual dalam kebersamaan lintas iman.
Baca juga: AMSAW Indonesia Perkuat Inklusivitas dan Kolaborasi Lingkungan di SEA Youth Summit 2026
Kehadiran Sinta Nuriyah disambut hangat para suster serta perempuan Muslim dari Lajnah Imaillah DIY.
Mengusung tema ‘Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi’, kegiatan ini dibuka oleh Romo Cosmas Christian Timur (Romo Oot).
Pastor tuan rumah, Romo Andreas Novian Ardi Prihatmoko, Pr (Romo Aan), menyampaikan apresiasi atas konsistensi Sinta Nuriyah dalam merawat toleransi dan nilai kemanusiaan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga solidaritas sosial dan kerukunan di tengah tantangan kebangsaan.
Dalam tausiyahnya, Sinta Nuriyah menekankan bahwa puasa bukan sekadar ibadah ritual, melainkan momentum memperkuat empati terhadap kelompok rentan.
Baca juga: Humanity First Indonesia Prioritaskan Pendidikan Anak-Anak Korban Banjir di Aceh
Ia membagikan pengalamannya bersahur bersama masyarakat marjinal sebagai wujud kesetaraan. “Kita pada hakikatnya satu, jadi tidak perlu gontok-gontokan,” ujarnya.
Kegiatan diakhiri dengan santap sahur bersama dan doa menjelang imsak yang dipimpin langsung oleh Sinta Nuriyah.
Sekitar 400 partisipan hadir, terdiri atas masyarakat dhuafa di sekitar gereja, komunitas difabel, penggerobak sampah, perwakilan FKUB, PWNU DIY, Jemaat Ahmadiyah DIY, unsur kepolisian khususnya dari Polsek Gondokusuman, serta jejaring ANBTI DIY.
Pengurus Pusat Lajnah Imaillah Indonesia (PPLI) Jemaat Ahmadiyah turut berkontribusi dalam bentuk donasi untuk pengadaan sembako yang dibagikan kepada masyarakat dhuafa yang hadir. Lajnah Imaillah (LI) DIY berpartisipasi dalam kepanitiaan.
Sahur Keliling yang berakhir sekitar pukul 05.00 WIB ini menegaskan komitmen bersama untuk merawat harmoni dan memperkuat persatuan antarumat beragama di Yogyakarta. *
Kontribuor: Rakhmat Fithri Adi