By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Warta Ahmadiyah
  • Beranda
  • Berita
    • Mancanegara
    • Nasional
    • Daerah
  • Organisasi
    • Ansharullah
    • Khuddam
    • Lajnah Imaillah
  • Kebangsaan
  • Keislaman
  • Sosial
  • Rabthah
  • Siaran Pers
Font ResizerAa
Warta AhmadiyahWarta Ahmadiyah
  • Beranda
  • Berita
  • Organisasi
  • Kebangsaan
  • Keislaman
  • Sosial
  • Rabthah
  • Siaran Pers
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Organisasi
  • Kebangsaan
  • Keislaman
  • Sosial
  • Rabthah
  • Siaran Pers
Follow US
  • Berita
  • Organisasi
  • Kebangsaan
  • Keislaman
  • Sosial
  • Rabthah
  • Opini
  • Siaran Pers
© WartaAhmadiyah
Siaran Pers

PELUNCURAN BUKU MUSLIM AHMADIYAH DAN INDONESIA: 100 TAHUN KEBERAGAMAAN & KERJA KEMANUSIAAN

By Redaksi Published 21 Januari 2026 12 Views
Share
dari kiri : Mila Muzakkar, Muhammad Anahdi Sholihin, Pdt. Gomar Gultom, Zaki Firdaus Syahid (Amir Nasional JAI), Prof. Ismatu Ropi, Lukman Saifuddin, Hery, Mln. Maksum Ahmad dalam Peluncuran Buku
SHARE

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuluh

BISMILLAHIR-ROHMANIR-ROHIM
SIARAN PERS
PELUNCURAN BUKU
MUSLIM AHMADIYAH DAN INDONESIA:
100 TAHUN KEBERAGAMAAN & KERJA KEMANUSIAAN

Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia meluncurkan buku berjudul Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di Wisma Rahmat Ali, Jakarta Pusat pada Selasa, 20 Januari 2025. Buku ini merekam perjalanan 100 tahun kehadiran Muslim Ahmadiyah di Indonesia sebagai refleksi perjumpaan, persahabatan, dan kerja-kerja kemanusiaan Jemaat Muslim Ahmadiyah bersama para tokoh bangsa, yang ditulis oleh 100 tokoh Indonesia non-Ahmadiyah berdasarkan fakta, pengalaman langsung, dan keterlibatan mereka dalam berbagai kegiatan.

Seratus tahun lalu, kehadiran Ahmadiyah di Indonesia bermula bukan dari datangnya Ahmadiyah ke Nusantara, melainkan dari pemuda-pemuda Nusantara yang mendatangi Ahmadiyah di Qadian, Hindustan. Pada tahun 1923, tiga pemuda lulusan Sumatera Thawalib Padang Panjang, Abu Bakar Ayyub, Ahmad Nuruddin, dan Zaini Dahlan berangkat menuntut ilmu dan menyambangi Khalifatul Masih II ra, Hadhrat Mirza Bashirudin Mahmud Ahmad ra. Kemudian pada tahun 1924, belasan pelajar Nusantara tercatat telah berada di Qadian untuk belajar di Jamiah Ahmadiyah.

Dalam sebuah jamuan bersama Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad ra, setelah khalwat beliau mengenalkan Islam Ahmadiyah di Eropa, para pelajar Nusantara menyampaikan permohonan agar dikirimkan mubaligh ke Timur, termasuk Nusantara. Permohonan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengutusan Maulana Rahmat Ali HAOT. Setelah mempelajari bahasa Indonesia, Maulana Rahmat Ali HAOT berangkat dari Qadian pada 17 Agustus 1925 dan tiba di Pelabuhan Tapaktuan, Aceh, pada 20 Oktober 1925. Tidak lama dari itu, pada 25 Desember 1925, sebanyak 15 pemuda Nusantara bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah di Tapaktuan, dan pada tahun tersebut ditandai sebagai lahirnya dan hadirnya Muslim Ahmadiyah di Indonesia yang kini genap berusia 100 tahun pada 2025.

Dalam sambutannya, Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Sahid, S.T., M.T. menegaskan bahwa Muslim Ahmadiyah meyakini agama sebagai raḥmatan lil-‘alamin dan hudan lin-nas. Sejak awal kehadirannya di Indonesia pada tahun 1925, Ahmadiyah berupaya menapaki jalan damai melalui pendidikan, pengkhidmatan terhadap kemanusiaan, penguatan kerohanian serta menebar cinta kasih.

Amir Nasional juga menyampaikan bahwa perjalanan lebih dari 100 tahun ini tidak terlepas dari tantangan, dinamika sosial, serta berbagai tekanan. Dalam situasi tersebut, Jemaat Muslim Ahmadiyah memilih jalan kesabaran dan konsistensi, dengan keyakinan bahwa kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Tidak lama dari itu, pada 25 Desember 1925, sebanyak 15 pemuda Nusantara
bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah di Tapaktuan, dan pada tahun tersebut ditandai
sebagai lahirnya dan hadirnya Muslim Ahmadiyah di Indonesia yang kini genap berusia 100
tahun pada 2025.

Dalam sambutannya, Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus
Sahid S.T, M.T, menegaskan bahwa Muslim Ahmadiyah meyakini agama sebagai raḥmatan
lil-‘alamin dan hudan lin-nas. Sejak awal kehadirannya di Indonesia pada tahun 1925,
Ahmadiyah berupaya menapaki jalan damai melalui pendidikan, pengkhidmatan terhadap
kemanusiaan, penguatan kerohanian serta menebar cinta kasih.

Amir Nasional juga menyampaikan bahwa perjalanan lebih dari 100 tahun ini tidak terlepas
dari tantangan, dinamika sosial, serta berbagai tekanan. Dalam situasi tersebut, Jemaat
Muslim Ahmadiyah memilih jalan kesabaran dan konsistensi, dengan keyakinan bahwa
kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.

Buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan dan Kerja Kemanusiaan disunting oleh Prof. Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar. Dalam sambutannya, Prof. Ismatu Ropi menegaskan bahwa Jemaat Ahmadiyah sebagai kelompok keagamaan di Indonesia tidak pernah hadir dalam ruang yang hampa makna. Kehadirannya selalu bersinggungan dengan dinamika sosial, budaya, politik, dan keagamaan yang kompleks. Oleh karena itu, berbicara tentang Ahmadiyah tidak semata-mata membahas perbedaan teologis, melainkan juga bagaimana komunitas ini memaknai keberadaannya, membangun jejaring sosial, menghadapi tantangan, dan merumuskan masa depannya.

Prof. Ismatu Ropi menjelaskan bahwa buku ini disusun dalam dua jilid. Jilid pertama memotret 100 tahun keberagamaan dan kerja kemanusiaan Ahmadiyah di Indonesia dari berbagai perspektif. Sementara Jilid II secara khusus menyoroti tema-tema lanjutan, antara lain ketahanan dan kepemimpinan perempuan Ahmadiyah, keterlibatan Ahmadiyah dalam isu-isu kontemporer seperti lingkungan hidup dan demokrasi, jaringan solidaritas lintas iman, hingga perspektif legal dan konstitusional mengenai masa depan Ahmadiyah di Indonesia.

Kedua jilid ini merupakan hasil refleksi dari 100 tokoh dengan latar belakang dan sudut pandang yang beragam. Keberagaman perspektif tersebut menjadikan buku ini bukan sekadar antologi tulisan, melainkan sebuah dialektika yang hidup antara pengalaman personal, analisis akademik, dan harapan kebangsaan. Melalui pendekatan multidisipliner teologis, sosiologis, antropologis, politik, dan kultural, para editor ingin menunjukkan bahwa studi tentang Ahmadiyah menuntut pembacaan yang utuh dan berlapis.

Dedy Ibmar menambahkan bahwa proses penyusunan buku dilakukan melalui metode blind review. Setiap tulisan dikurasi tanpa mencantumkan identitas penulis di tahap awal, kemudian dikelompokkan ke dalam tema-tema besar agar alur pembacaan lebih utuh dan objektif.

Salah satu penulis dalam buku ini, Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019, menyampaikan bahwa Ahmadiyah selama ini terlalu banyak disalahpahami. Menurutnya, yang kerap terjadi bukanlah persoalan niat, melainkan kesalahpahaman yang menyentuh isu-isu mendasar, terutama perkara teologis seperti kenabian, yang berdampak luas tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global. Ia menilai bahwa soliditas dan kerapian organisasi Ahmadiyah sebagai ormas Islam global kerap dipersepsikan sebagai eksklusivitas, padahal kohesivitas tersebut merupakan kekuatan Muslim Ahmadiyah. 

Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin menekankan pentingnya moderasi dalam memahami perbedaan keyakinan, termasuk pandangan Muslim Ahmadiyah yang tidak dimiliki oleh Muslim kebanyakan di Indonesia, serta menegaskan bahwa keberagaman merupakan keniscayaan dan sunnatullah, baik dalam Islam, Kristen, maupun Katolik. Oleh karena itu, ia mengapresiasi buku ini sebagai jembatan dialog yang mampu memoderasi kesalahpahaman yang telah berlangsung lama.

“Ahmadiyah adalah ormas Islam seluruh dunia yang paling solid, well organized, tidak ada ormas Islam yang dimanage serapih Ahmadiyah. Karena itu eksklusivitas, itu daya rekat, kohesivitas ini menjadi titik lemah yang disalahpahami.”

“Lalu memoderasi, bahwa keyakinan Ahmadiyah yang tidak dimiliki oleh Muslim non-Ahmadiyah, misalnya soal Imam Mahdi, tidak terlalu eksklusif. Memoderasi ini memang betul, keberagaman adalah keniscayaan, bukan hanya di Ahmadiyah, di Islam, Kristen, dan Katolik, itu adalah sunnatullah, dan bagaimana dikomunikasikan.”

Kegiatan peluncuran buku ini menghadirkan sejumlah narasumber dari beragam latar belakang. Amir Nasional Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, Zaki Firdaus Sahid S.T, M.T, sebagai keynote speaker. Diskusi juga menghadirkan intelektual muda NU, Hery Haryanto Azumi, Dekan Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus editor buku, Prof. Ismatu Ropi, tokoh lintas iman, Pdt. Gomar Gultom, serta tokoh muda pegiat keberagaman dan isu gender, Mila Muzakkar. Diskusi dipandu oleh Dedy Ibmar, peneliti PPIM dan editor buku.

Selain itu, turut hadir Menteri Agama RI periode 2014–2019 sekaligus penulis dalam buku, Dr. (HC) Lukman Hakim Saifuddin, Komisioner Komnas Perempuan sekaligus penulis dalam buku,  Daden Sukendar, perwakilan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Utara, Bapak Nur, serta sejumlah tokoh dan undangan lainnya.

Sebagai bagian dari upaya memperluas ruang dialog dan mempertemukan gagasan-gagasan dalam buku ini dengan publik yang lebih luas, Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia juga akan menyelenggarakan roadshow buku Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagamaan & Kerja Kemanusiaan di 10 kota di Indonesia. Roadshow ini akan diisi dengan diskusi publik, bedah buku, dan gerakan sosial sebagai bagian dari perwujudan nilai-nilai ajaran Islam yang rahmat bagi sekalian alam.

LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE

Jakarta, 20 Januari 2025

Yendra Budiana
Sekretaris Pers & Juru Bicara Jemaat Ahmadiyah Indonesia
Email : [email protected]
HP : 0812-806-7083

You Might Also Like

Khalifah Islam Ahmadiyah Mengutuk Penyerangan Gujranwala

Jamaah Muslim Ahmadiyah USA Ikut Berduka Bersama Keluarga Korban Penembakan Chapel Hill

Ketua Jemaat Muslim Ahmadiyah Sedunia Resmikan Masjid Baitul Ikram Di Dallas

Siaran Pers : Hadiri Konferensi Muslim Kanada, Perdana Menteri Kanada Apresiasi Peran Ahmadiyah Dalam Perdamaian

Siaran Pers Penyegelan Masjid An-Nur Bukit Duri 10 Juli 2015

By Redaksi
Follow:
MEDIA INFORMASI JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA
Previous Article Jemaat Ahmadiyah Indonesia Gelar Live In Jurnalisme Konstruktif, Diikuti 23 Wartawan
Next Article - Jemaat Muslim Ahmadiyah Cirebon menggandeng Satpol PP Kota Cirebon Jemaat Muslim Ahmadiyah Gandeng Satpol PP dalam Kegiatan Bersih-Bersih Masjid
Leave a Comment

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Warta Ahmadiyah

Warta Ahmadiyah merupakan sumber resmi Jemaat Ahmadiyah Indonesia yang menyajikan ragam informasi seputar kegiatan dan pandangan Ahmadiyah mengenai berbagai hal.

Kategori

  • Berita
  • Organisasi
  • Kebangsaan
  • Keislaman
  • Sosial
  • Rabthah
  • Opini
  • Siaran Pers

Informasi

  • Redaksi
  • Kontak Kami
  • Kirim Berita

Copyright © 2025 wartaahmadiyah.org All rights reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?