Kuningan, Warta Ahmadiyah – Sebanyak 23 jurnalis dari berbagai daerah mengikuti kegiatan Live In Jurnalisme Konstruktif dan Kolaboratif Berbasis Komunitas pada Jumat hingga Minggu 16 – 18 Januari 2025.
Kegiatna tersebut digelar di Masjid Mubarak Cirebon dan Desa Manislor, Kabupaten Kuningan.
Selama dua hari di Manislor, yang mayoritas warganya merupakan Jemaat Muslim Ahmadiyah, menjadi ruang dialog langsung bagi para jurnalis untuk memahami isu keberagaman melalui kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baca juga: Pelepasan Mahasiswa Jamiaah di Jemaat Ahmadiyah Manislor Berlangsung Khidmat
Kedatangan peserta disambut hangat oleh anggota Jemaat Muslim Ahmadiyah Manislor.
Selama live in, peserta tidak hanya mengikuti diskusi, tetapi juga tinggal bersama warga dan menyaksikan langsung dinamika sosial dan berinteraksi langsung dengan masyarakat sekitar.
Pendekatan ini memberi pengalaman lapangan yang penting bagi jurnalis untuk membangun sudut pandang yang lebih utuh, sekaligus menyisihkan prasangka yang kerap muncul dalam peliputan isu minoritas.
Baca juga: Tanam Pohon di Lapangan Desa, Jemaat Ahmadiyah Manislor Wujudkan Peduli Lingkungan
Dalam salah satu sesi sambutan, Mubaligh Jemaat Muslim Ahmadiyah, Tatan LDB menekankan pentingnya sikap tabayyun dalam mengenal Ahmadiyah.
Para jurnalis diajak untuk melihat, mendengar, dan memahami langsung kehidupan jemaat dari sumbernya agar pemberitaan yang disampaikan benar-benar berbasis fakta.
Jemaat Muslim Ahmadiyah Manislor juga menyampaikan keterbukaan untuk berkolaborasi dengan media, termasuk dalam kegiatan sosial.
Baca juga: Lajnah Imaillah Jawa Tengah Perkuat Keorganisasian Lewat Mugab
Sebut saja seperti donor darah, donor kornea mata, serta penguatan UMKM.
Salah satu peserta, Reynaldi dari Elshinta Radio, menyampaikan bahwa ia melihat masa depan Manislor dari kuatnya kerja sama antar pelaku UMKM yang saling mendukung. Ujarnya.

Diskusi diisi oleh Shinta Maharani dari Tempo, yang menegaskan pentingnya jurnalisme konstruktif dalam peliputan isu minoritas dan keberagaman.
Menurutnya, jurnalis tidak cukup hanya melaporkan konflik, tetapi perlu menghadirkan konteks, menggali akar persoalan, serta memberi ruang bagi suara komunitas secara adil dan bertanggung jawab.
Pendekatan ini, kata Shinta, membuat jurnalisme berperan dan lebih berdampak bagi masyarakat.
Sementara itu, Asep Saefullah dari Suara.com menekankan pentingnya menjadikan media sebagai jembatan kolaborasi antara jurnalis dan komunitas melalui dialog publik, pelatihan bersama, dan kampanye sosial lintas komunitas.
Di akhir kegiatan, peserta melakukan refleksi dan menyusun rencana tindak lanjut yang diarahkan pada penguatan praktik jurnalisme konstruktif dan kolaboratif.
Rencana ini bertujuan mendorong jurnalis membangun kerja sama lintas media, melibatkan komunitas secara bermakna dalam proses peliputan.
Termasuk juga mengembangkan liputan yang menghadirkan konteks sosial, perspektif kemanusiaan, dan solusi bersama.
Melalui live in ini, jurnalis diharapkan mampu menghasilkan pemberitaan keberagaman yang lebih kontekstual, inklusif, dan berimbang.
Sekaligus memperkuat peran media sebagai ruang dialog dan kolaborasi antar kelompok masyarakat.
Kontributor: Tia Sal Sabila
Editor :Talhah Lukman A