Direktur Operasional Humanity First Dorong Kolaborasi dengan Lembaga Penanggulangan Bencana

Munadi AhmadNasional2 min
Humanity First telah menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi kemanusiaan di tingkat internasional.
A-AA+A++

Bogor, Warta Ahmadiyah — Direktur Operasional Humanity First Internasional, Fazal Ahmad, mendorong Humanity First Indonesia memperluas kolaborasi dengan lembaga pemerintah dan organisasi kemanusiaan untuk memperkuat penanggulangan bencana. Hal tersebut disampaikannya dalam Workshop Disaster Response di Auditorium Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Kemang, Bogor, Sabtu (10/10/2026).

Fazal menjelaskan bahwa Humanity First telah menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi kemanusiaan di tingkat internasional. Organisasi tersebut juga memiliki status konsultatif pada Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuka ruang keterlibatan Humanity First dalam berbagai forum internasional dan respons bencana bersama organisasi lain, seperti Save the Children, Oxfam, Palang Merah, serta Bulan Sabit Merah.

Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Lampung dan Gusdurian Duduk Bersama di Vihara Suvanna Dipa

Untuk memperluas kemitraan di Indonesia, Fazal menyarankan agar Humanity First Indonesia membangun komunikasi langsung dengan lembaga terkait. Persiapan sebelum pertemuan juga diperlukan agar calon mitra memahami kapasitas dan pengalaman organisasi.

“Pertama-tama, pergilah menemui mereka dan ajak berdiskusi. Sebelum bertemu, susunlah narasi yang kuat tentang siapa Humanity First itu,” ujarnya.

Fazal juga menekankan pentingnya memperkenalkan rekam jejak Humanity First secara global, bukan hanya pengalaman di Indonesia. Ia menyebut organisasi tersebut terdaftar di 67 negara dan telah merespons bencana di 115 negara.

Baca juga: Jemaat Ahmadiyah Tambun Fasilitasi Donor Darah untuk Masyarakat

Sementara itu, Humanity First Indonesia telah terlibat dalam penanganan bencana gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi selama sekitar 20 tahun terakhir. Pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari kapasitas yang ditawarkan saat membangun kerja sama dengan lembaga lain.

Menurut Fazal, perpaduan pengalaman lokal dan jaringan internasional dapat menjadi modal untuk memperluas peluang kolaborasi. Komunikasi dengan lembaga pemerintah maupun organisasi nonpemerintah diharapkan membuka ruang kerja sama yang lebih luas dalam menghadapi keadaan darurat.

Melalui workshop ini, penguatan kesiapsiagaan diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan peserta, tetapi juga mendorong terbentuknya jejaring kerja sama yang dapat mendukung respons bencana secara lebih terkoordinasi.